Daya Beli Petani DIY Menguat tahun lalu
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Akhir tahun 2025 membawa kabar baik bagi petani di Daerah Istimewa Yogyakarta. Nilai Tukar Petani (NTP), indikator daya beli petani, tercatat meningkat menjadi 110,03 pada Desember 2025, naik 2,77 persen dibandingkan November. Angka ini menandakan perbaikan kesejahteraan petani di tengah tekanan biaya produksi yang masih berlangsung.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Herum Fajarwati, menjelaskan bahwa kenaikan NTP dipicu oleh meningkatnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang mencapai 145,51, naik 4,65 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga naik, namun lebih rendah, yakni 132,25 atau meningkat 1,83 persen. “Komoditas seperti ayam ras pedaging, kacang tanah, melon, dan cabai merah menjadi penyumbang utama kenaikan It,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).
Jika ditinjau menurut subsektor, hortikultura mencatat lonjakan paling tinggi dengan NTP 155,61, naik 20,72 persen. Subsektor peternakan juga menguat dengan NTP 105,66 atau naik 5,06 persen, sementara perikanan mencatat 95,94 atau naik 2,28 persen. Namun tidak semua subsektor mengalami perbaikan. Tanaman pangan justru turun menjadi 104,77 atau turun 0,66 persen, sedangkan perkebunan rakyat melemah ke angka 115,56, turun 2,58 persen dibandingkan November.
Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) DIY juga menunjukkan tren positif. Pada Desember 2025, NTUP tercatat 117,03, naik 4,20 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan NTUP ini kembali didorong oleh komoditas unggulan seperti ayam ras pedaging, kacang tanah, melon, dan cabai merah. Adapun Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) mencapai 124,34, naik tipis 0,43 persen, dipengaruhi oleh kenaikan biaya upah pemanenan, penanaman, harga bibit kacang tanah, serta harga bensin.
Subsektor hortikultura juga mendominasi NTUP dengan indeks 164,48, naik 21,89 persen. Peternakan mencatat NTUP 108,34 atau naik 5,74 persen, perikanan 101,70 atau naik 3,02 persen, dan tanaman pangan 112,26 atau naik 1,12 persen. Sebaliknya, subsektor perkebunan rakyat mengalami penurunan menjadi 132,14, turun 1,31 persen.
Kenaikan NTP dan NTUP ini mencerminkan kondisi usaha pertanian DIY yang relatif membaik, terutama pada subsektor hortikultura yang tengah menikmati harga komoditas lebih tinggi. Meski demikian, tantangan berupa kenaikan biaya produksi tetap membayangi, khususnya pada komoditas pangan dan perkebunan.