AI Harus Dikembangkan dengan Pendekatan Tekno-Sosio

Prof Ir Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D.,
Sumber :
  • Humas UMY

BANTUL, VIVA Jogja - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin masif telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Namun, di balik pesatnya inovasi, muncul tantangan etika dan sosial yang tidak bisa diabaikan. Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Ir Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa pengembangan AI harus dilakukan dengan pendekatan tekno-sosio agar teknologi ini benar-benar berpihak pada manusia.

img_title Muhammadiyah Dorong Evaluasi Ormas Berbasis Hukum dan Data

Dalam orasi ilmiah Guru Besar berjudul “Ekosistem Tekno-Sosio Kecerdasan Buatan Terapan untuk Kemaslahatan Umat” yang disampaikan di Kampus Terpadu UMY, Sabtu (24/01/2026), Slamet menekankan bahwa kecerdasan buatan tidak pernah berdiri sendiri dan tidak bebas nilai. Menurutnya, setiap algoritma selalu mengandung pandangan filosofis tentang manusia, pengetahuan, dan tujuan hidup. Karena itu, pengembangan AI tidak boleh hanya berorientasi pada kecanggihan sistem, melainkan harus mempertimbangkan nilai, etika, serta dampak sosial yang ditimbulkan.

Ia mengingatkan bahwa jika AI dikembangkan tanpa kesadaran sosial, risiko ketimpangan dan dehumanisasi akan semakin besar. Mesin memang bekerja melalui pola pengolahan data dan probabilitas, tetapi keputusan akhir tetap harus dituntun oleh akal, nurani, dan nilai manusia. Slamet menegaskan bahwa manusia tidak boleh menyerahkan sepenuhnya proses pengetahuan kepada mesin, sebab teknologi seharusnya menjadi sarana pendukung kehidupan sosial, bukan kekuatan yang menggantikan peran manusia.

img_title UGM dan Indosat Resmikan AI Technology Center, Perkuat Ekosistem Kecerdasan Buatan Indonesia Bersama NVIDIA

Pendekatan tekno-sosio, lanjutnya, menuntut keterlibatan berbagai pihak dalam proses pengembangan dan penerapan AI. Akademisi, industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat harus berkolaborasi agar teknologi tidak berkembang secara eksklusif dan elitis. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci untuk memastikan AI hadir sebagai teknologi yang melayani kepentingan bersama.

Sebagai Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Slamet juga menekankan pentingnya menempatkan pengembangan AI dalam perspektif keislaman, dengan kemaslahatan sebagai tujuan utama. Prinsip tersebut, menurutnya, sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an yang menekankan keadilan, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral. Ia menegaskan bahwa teknologi harus diarahkan untuk menjaga martabat manusia dan memperkuat nilai kemanusiaan, sehingga mampu mendukung kehidupan masyarakat yang adil dan berkelanjutan.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title UGM Kembangkan TBScreen.AI untuk Percepat Skrining Tuberkulosis di Wilayah Terpencil