Gempa Tektonik Guncang DIY, Merapi Masih Siaga Level III
- Dok BPPTKG
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta merasakan dua kali gempa tektonik pada Selasa (27/01/2026). Getaran tersebut juga dilaporkan terasa di Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Magelang, dan terekam jelas oleh stasiun pemantauan kegempaan di Gunung Merapi. Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada tanda-tanda peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Parameter kegempaan maupun deformasi yang dipantau melalui stasiun Turgo dan Babadan tidak menunjukkan anomali setelah kejadian gempa.
Dalam periode pengamatan antara pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, kondisi cuaca di sekitar Merapi terpantau mendung disertai hujan dengan suhu udara berkisar 18,3–20,4 derajat Celsius dan kelembaban mencapai hampir 100 persen. Tekanan udara tercatat antara 873–916 mmHg dengan curah hujan harian mencapai 70 milimeter. Secara visual, gunung tertutup kabut dengan intensitas cukup tebal, sementara asap kawah tidak tampak.
Aktivitas kegempaan Merapi masih menunjukkan dinamika yang wajar pada level siaga. Tercatat satu kali awan panas guguran dengan amplitudo 39 milimeter dan durasi lebih dari 100 detik, meluncur sejauh 1.000 meter ke arah barat daya tepatnya di hulu Kali Boyong. Selain itu, terjadi puluhan guguran lava, gempa hybrid, gempa vulkanik dangkal, serta gempa tektonik jauh yang menandakan suplai magma masih berlangsung.
BPPTKG menegaskan bahwa status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan–barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh lima kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer. Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer. Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.
Agus Budi Santoso mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya dan tetap waspada terhadap ancaman lahar maupun abu vulkanik, terutama saat hujan deras turun di sekitar Merapi. Ia menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat status Merapi akan segera ditinjau kembali.