Potret Menu Kering MBG Ramadan di DIY: Sorotan Publik dan Keluhan Siswa

Menu MBG selama Ramadan
Sumber :
  • Istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadan di Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menjadi sorotan publik. Selama Ramadan 2026, menu kering yang dibagikan memicu beragam komentar di media sosial. Unggahan akun Instagram @merapi_uncover yang menampilkan paket berisi kroket kentang, onde-onde kacang hijau, roti, pisang, salak pondoh, dan telur rebus menimbulkan diskusi panjang. Banyak warganet mempertanyakan apakah menu tersebut benar-benar memenuhi standar gizi yang dijanjikan pemerintah.

img_title Program Makan Bergizi Gratis Dorong Kenaikan Harga Ayam dan Telur

Di Twitter, akun @jogjaupdate menulis bahwa menu MBG Ramadan lebih mirip “snack rapat” daripada makanan bergizi untuk anak sekolah. Unggahan itu mendapat ratusan retweet dan komentar, dengan sejumlah orang tua mengeluhkan anak mereka hanya menerima roti, kurma, dan susu kotak tanpa lauk berprotein. Sementara itu, di Facebook, grup komunitas Info Cegatan Jogja ramai membicarakan porsi MBG yang dianggap terlalu kecil. Seorang anggota menulis bahwa anaknya hanya mendapat onde-onde dan telur rebus, yang mungkin cocok untuk berbuka puasa tetapi dinilai kurang seimbang dari sisi gizi.

Menanggapi polemik tersebut, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkab Bantul, Hermawan Setiaji, menyatakan pihaknya sudah melakukan penelusuran. Menu yang diunggah di media sosial berasal dari SPPG 2 Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, dan sempat menimbulkan komplain dari SMKN 1 Sewon. Komplain itu disampaikan langsung melalui WhatsApp, bukan di media sosial. Menurut Hermawan, menu tersebut sebenarnya sudah dihitung kandungan gizinya oleh ahli gizi SPPG, namun ia menekankan agar ke depan standar gizi benar-benar dijaga dan komunikasi antara sekolah serta SPPG lebih intensif.

img_title Refocusing Program MBG Prioritaskan pada Daerah Stunting

Waka Humas SMKN 1 Sewon, Samsiwihati, membenarkan bahwa sekolah menerima menu berupa kroket, onde-onde, salak pondoh, dan telur rebus. Ia menjelaskan bahwa setiap paket sudah dilengkapi analisis gizi, dengan porsi kecil untuk siswa dan porsi besar untuk guru atau karyawan. Meski demikian, sempat muncul keluhan dari siswa yang menilai kroket terasa kecut, sementara guru menilai masih layak dikonsumsi. Perbedaan persepsi ini kemudian dilaporkan ke pihak SPPG agar segera ditindaklanjuti.

Berdasarkan laporan media lokal, sejumlah keluhan muncul di berbagai sekolah di DIY selama Ramadan 2026. Orang tua menilai menu berupa roti, kurma, dan susu kotak tidak mencukupi kebutuhan protein anak. Warganet menyebut paket MBG lebih mirip “snack rapat” daripada makanan bergizi. Radar Jogja mencatat variasi menu kering MBG selama Ramadan dianggap monoton, sehingga menimbulkan pertanyaan soal kualitas dan harga paket. Ada pula keluhan soal rasa yang tidak konsisten, seperti kasus kroket di SMKN 1 Sewon. Keluhan ini menunjukkan adanya gap antara perencanaan gizi di atas kertas dengan persepsi penerima manfaat di lapangan. Satgas MBG DIY menegaskan bahwa setiap menu sudah melalui analisis gizi, namun tetap membuka ruang evaluasi agar program benar-benar sesuai tujuan.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Viral Video Sebut MBG Haram, Pemuda Pancasila Jepara Minta Pengasuh Ponpes Al Husna Klarifikasi