Lonjakan Wisata di Libur Lebaran, Waspada Problem Sampah

Peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM, Dr Destha Titi Raharjana
Sumber :
  • DOK UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Libur panjang Idul Fitri 2026 diperkirakan menjadi salah satu momentum terbesar pergerakan wisatawan nusantara. Selain arus mudik yang mengalir ke berbagai daerah, kunjungan wisata juga meningkat tajam, terutama ke destinasi populer di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Fenomena ini bukan hanya membawa berkah ekonomi, tetapi juga tantangan serius terkait kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.

img_title Walikota Yogyakarta Susuri Sungai Code, Fokus Penataan Kawasan Selatan

Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, sekitar 8,2 juta orang diprediksi melakukan perjalanan ke Yogyakarta selama periode Lebaran tahun ini. Angka tersebut jauh melampaui jumlah penduduk DIY yang hanya sekitar 3,7–3,8 juta jiwa. Artinya, dalam kurun waktu singkat, Jogja akan menerima tamu dalam jumlah lebih dari dua kali lipat populasi lokal. Kondisi ini tentu menimbulkan konsekuensi besar, baik dari sisi transportasi, akomodasi, maupun pengelolaan sampah.

Peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM, Dr Destha Titi Raharjana, menyebutkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke DIY diperkirakan mencapai 1,46 juta orang. Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman menjadi wilayah yang paling banyak dikunjungi. “Lonjakan ini salah satunya dipicu oleh akses jalan tol yang semakin dekat dengan pusat kota, baik melalui jalur utara via Tempel maupun jalur timur via Prambanan,” jelasnya.

img_title Gerakan Pilah Sampah Umbulharjo Jadi Inspirasi Pengelolaan Lingkungan

Menurut Destha, puncak arus kedatangan wisatawan diperkirakan terjadi pada H-5 hingga H-3 Lebaran, sementara puncak kunjungan wisata berlangsung sekitar 22 Maret 2026. Ia mengingatkan, meski geliat wisata membawa dampak positif bagi perekonomian lokal, ada risiko besar terhadap lingkungan. “Ledakan jumlah pengunjung bisa menimbulkan ledakan volume sampah. Jangan sampai euforia nostalgia di Jogja justru mencemari citra estetik kota ini,” tegasnya.

Destha menekankan pentingnya komitmen pariwisata bertanggung jawab. Pengelola destinasi diminta menyediakan fasilitas kebersihan memadai, sementara wisatawan diimbau tidak membuang sampah sembarangan. “Kita harus menjaga agar lonjakan kunjungan tidak meninggalkan masalah lingkungan. Jogja dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan, jangan sampai tercoreng oleh tumpukan sampah di titik-titik keramaian,” tambahnya.

img_title Mahasiswa Internasional Pelajari Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Yogyakarta

Selain Malioboro, Titik Nol Kilometer, Tugu Jogja, Kraton, dan Tamansari, sejumlah pantai di Bantul serta destinasi alam di Gunung Kidul diperkirakan akan menjadi magnet wisatawan. Tren wisata instagrammable juga mendorong kunjungan ke desa wisata dan kampung-kampung dengan homestay di Sleman, Bantul, dan Kulon Progo. “Jogja punya daya tarik unik, mulai dari wisata sejarah, budaya, hingga kuliner murah meriah. Banyak orang datang bukan hanya untuk berlibur, tapi juga bernostalgia,” ujar Destha.

Halaman Selanjutnya
img_title