Sekda DIY Ingatkan Koreksi pada Implementasi MBG

Sekda DIY Ni Made Dwi Panti Indrayanti
Sumber :
  • Humas Pemda DIY

Selain soal jumlah hari, masalah implementasi juga menjadi sorotan. Sejumlah sekolah di Sleman dan Bantul melaporkan adanya keterlambatan distribusi makanan pada awal tahun 2026. Beberapa menu juga dinilai kurang sesuai dengan standar gizi yang ditetapkan.

img_title Dugaan Keracunan MBG di Sleman, 229 Pelajar Bergejala dan Operasional Dapur SPPG Dihentikan Sementara

Guru SD di Sleman, Siti Rahma, mengungkapkan bahwa meski program MBG membantu siswa mendapatkan makanan bergizi, kualitas menu masih perlu ditingkatkan. “Kadang lauknya terlalu sedikit atau sayurnya tidak segar. Anak-anak tetap senang, tapi kami berharap kualitas lebih diperhatikan,” katanya.

Sekda DIY menegaskan bahwa koreksi implementasi harus dilakukan agar program benar-benar menyentuh kelompok yang membutuhkan. “Kalau memang harus efisiensi, pastikan tidak mengurangi kualitas dan tepat sasaran. Anak-anak dari keluarga miskin dan daerah rawan gizi harus tetap menjadi prioritas,” ujarnya.

img_title Dukung Edukasi Gizi MBG di DIY, Budi Waljiman: Investasi Generasi Sehat dan Berkualitas

Pemerintah daerah berharap pemerintah pusat melibatkan daerah dalam evaluasi program. Dengan begitu, kebijakan efisiensi tidak hanya sekadar angka penghematan, tetapi juga mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.

Rencana pemangkasan hari operasional MBG menjadi lima hari sepekan memang dapat menghemat anggaran negara hingga puluhan triliun rupiah. Namun, daerah menekankan bahwa efisiensi tidak boleh mengorbankan kualitas dan ketepatan sasaran. Dengan prevalensi stunting yang masih cukup tinggi, program MBG tetap menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kualitas gizi anak bangsa.

img_title Intelijen Keuangan PPATK di Era Prabowo: Menjaga Indonesia dari Ancaman Kejahatan Finansial