Sampah LIburan Terkendali berkat Gerakan Mas JOS

Penjemputan sampah organik
Sumber :
  • Istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja   Libur Lebaran 1447 H di Kota Yogyakarta tidak hanya membawa lonjakan wisatawan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Namun, berkat penerapan Gerakan Mas JOS (Masyarakat Jogja Ora Sampah), timbulan sampah selama masa libur Idulfitri 2026 terpantau relatif terkendali.

img_title Walikota Yogyakarta Susuri Sungai Code, Fokus Penataan Kawasan Selatan

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menyampaikan bahwa kondisi sampah selama periode H-1 hingga H+1 Lebaran masih berada dalam batas normal. “Volume sampah saat itu setara dengan timbulan harian reguler. Kenaikan baru terlihat pada H+2 dengan peningkatan sekitar 7 persen atau setara 20 ton per hari,” jelasnya, Kamis (26/03/2026).

Rajwan menegaskan, angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan signifikan dalam pola pengelolaan sampah. “Sebagian besar sampah yang meningkat merupakan sampah organik sisa makanan. Untungnya, sampah jenis ini langsung tertangani di tingkat sumber sehingga tidak menumpuk di depo,” tambahnya.

img_title Gerakan Pilah Sampah Umbulharjo Jadi Inspirasi Pengelolaan Lingkungan

Menurutnya, keberhasilan pengendalian sampah tidak lepas dari partisipasi masyarakat, pemudik, dan wisatawan yang menerapkan Gerakan Mas JOS. Gerakan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Pemkot Yogyakarta Nomor 100.4.4/730 Tahun 2026 tentang Pengendalian Sampah Hari Raya Idulfitri. “Kami berterima kasih kepada masyarakat yang telah menjalankan lima langkah Mas JOS serta mendukung tujuh upaya pengendalian sampah, termasuk empat langkah bagi panitia penyelenggara salat Idulfitri,” ungkap Rajwan.

DLH mencatat, timbulan sampah di Kota Yogyakarta rata-rata mencapai 300 ton per hari. Namun, melalui pemilahan dan pengolahan sejak dari sumber, sebagian besar sampah berhasil direduksi sebelum masuk ke depo. Rincian pengelolaan menunjukkan sekitar 25 ton sampah organik dikumpulkan melalui 1.000 ember yang tersebar di berbagai titik, 20 ton sampah anorganik dikelola melalui bank sampah, dan 20 ton lainnya ditangani dengan metode biopori serta budidaya maggot.

img_title Mahasiswa Internasional Pelajari Pengelolaan Sampah Berkelanjutan di Yogyakarta

“Dengan pengelolaan sejak dari sumber, sampah organik basah bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak maupun budidaya maggot. Sementara sampah anorganik seperti plastik dan kertas ditangani melalui bank sampah yang melibatkan masyarakat,” jelas Rajwan.

Selain itu, DLH juga menyiagakan petugas tambahan di depo-depo strategis seperti Pringgokusuman dan Piyungan. Pengangkutan sampah dilakukan lebih intensif pada H+2 hingga H+4 Lebaran untuk mengantisipasi lonjakan. Hasilnya, tidak ada laporan penumpukan sampah yang mengganggu kenyamanan warga maupun wisatawan.

Halaman Selanjutnya
img_title