Pasar Beringharjo dan Ngasem Jadi Primadona Wisata Lebaran
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Libur Lebaran 2026 tidak hanya menghidupkan destinasi wisata populer seperti Malioboro atau Taman Pintar, tetapi juga membawa berkah besar bagi pasar-pasar tradisional di Kota Yogyakarta. Data Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta menunjukkan, tingkat kunjungan masyarakat ke pasar tradisional tetap tinggi bahkan hingga H+4 Lebaran. Fenomena ini sekaligus menegaskan bahwa pasar tradisional kini bukan sekadar tempat transaksi, melainkan juga destinasi wisata yang diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, menyampaikan bahwa peningkatan aktivitas pasar sudah terlihat sejak beberapa hari sebelum Lebaran. “Sekitar tiga hari sebelum Lebaran, pasar-pasar mulai ramai. Masyarakat berburu kebutuhan pokok untuk persiapan hari raya. Secara umum, omzet pedagang meningkat antara 30 hingga 80 persen, tergantung jenis dagangannya,” ujarnya.
Pasar Beringharjo menjadi sorotan utama. Jika pada tahun-tahun sebelumnya lonjakan pengunjung sudah terlihat sejak H-7 Lebaran, tahun ini peningkatan justru terjadi mendekati hari H. “Awalnya sempat ada kekhawatiran karena H-7 belum terlihat peningkatan signifikan. Pedagang juga mulai bertanya-tanya. Namun setelah itu, kunjungan meningkat drastis hingga penuh menjelang Lebaran,” jelas Ambar.
Data resmi mencatat, pada 21 Maret 2026 jumlah pengunjung di Beringharjo mencapai 6.000–7.000 orang. Angka tersebut melonjak tajam pada 23 Maret dengan puncak kunjungan mencapai 17.248 orang. Hingga H+4 Lebaran, jumlah pengunjung masih stabil di kisaran 15.000–17.000 orang per hari. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan puncak libur Tahun Baru yang mencapai lebih dari 21.000 orang, angka ini tetap menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap pasar tradisional.
Selain Beringharjo, pasar lain juga mengalami lonjakan signifikan. Pasar Kranggan mencatat sekitar 9.478 pengunjung, sementara Pasar Ngasem mencapai 8.222 orang. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode libur Natal dan Tahun Baru sebelumnya. Menurut Ambar, tingginya kunjungan tidak lepas dari posisi strategis pasar-pasar tersebut yang berada di jalur sumbu filosofi Yogyakarta, mulai dari kawasan Tugu, Malioboro, hingga Ngasem. Jalur ini memang menjadi magnet wisata yang selalu ramai dikunjungi.
Di Beringharjo, permintaan tertinggi sebelum Lebaran terjadi pada kebutuhan pokok, sementara lantai dua dipadati pembeli busana muslim. Pasca Lebaran, pasar tetap ramai dengan wisatawan yang berburu batik, kain tradisional, hingga kuliner khas. “Pasar-pasar ini kini tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga destinasi wisata. Wisatawan datang untuk berbelanja sekaligus menikmati suasana dan kuliner khas,” kata Ambar.