Bantul Belajar dari Malang: Mengelola Potensi Perguruan Tinggi

Bupati Abdul Halim Muslih bersaa Walikota Malang
Sumber :
  • Istimewa

BANTUL, VIVA Jogja – Kabupaten Bantul tengah menatap peluang besar dari keberadaan lebih dari 61 perguruan tinggi yang berdiri di wilayahnya. Menyadari tantangan sekaligus potensi ekonomi yang muncul dari ribuan mahasiswa, Pemerintah Kabupaten Bantul melakukan kunjungan ke Pemerintah Kota Malang untuk mempelajari tata kelola perguruan tinggi dan menjajaki kerjasama strategis.

img_title Pemkab Bantul Perpanjang Kontrak 3.325 PPPK Paruh Waktu, Bentuk Apresiasi atas Pengabdian

Rombongan yang dipimpin langsung oleh Bupati Abdul Halim Muslih bersama 22 wartawan diterima oleh Walikota Malang, Wahyu Hidayat, pada Jumat, 24 April 2026. Dalam sambutannya, Halim menekankan kesamaan latar belakang sejarah antara Bantul dan Malang. Bantul pernah menjadi lokasi pertama berdirinya Kraton Ngayogyakarta, sementara Malang memiliki jejak kerajaan Singosari. Kedua daerah ini sama-sama mewarisi kebudayaan adiluhung yang menjadi benang merah penghubung.

Bupati Halim menegaskan bahwa Bantul kini berkembang pesat sebagai daerah penyangga lingkungan hidup Daerah Istimewa Yogyakarta. Seluruh sungai bermuara di Bantul, menjadikan wilayah ini penting secara ekologis. Namun, yang tak kalah signifikan adalah peran perguruan tinggi. Dengan hadirnya kampus besar seperti Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Alma Ata, dan sebentar lagi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, jumlah perguruan tinggi di Bantul bahkan melampaui Sleman dan Kota Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai “Kota Pelajar.”

img_title Pemkab Bantul dan Pertamina Rewulu Sepakat Perkuat Ketangguhan Masyarakat Hadapi Bencana

Menurut Halim, keberadaan ribuan mahasiswa akan membawa tantangan besar, terutama dalam hal tata kelola dan kerjasama dengan perguruan tinggi. Ia menilai Malang, dengan sejarah panjang dan pengalaman mengelola lebih dari 70 perguruan tinggi, merupakan contoh tepat untuk dijadikan ruang belajar. “Kota Malang dengan sejarah panjangnya dan kehadiran banyak universitas, rasanya cocok untuk menjadi ruang belajar terkait manajemen tata kelola serta mengadaptasikannya ke Bantul,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Pemkot Malang, Erik Setyo Santoso, menegaskan bahwa kehadiran ribuan mahasiswa memang berdampak besar terhadap optimalisasi potensi daerah dan daya dongkrak ekonomi. Ia mengingatkan bahwa puluhan tahun lalu wisuda hanya berlangsung setahun sekali, sementara kini hampir setiap pekan ada wisuda. Kondisi ini mendukung pertumbuhan sektor kuliner dan properti yang maju pesat karena tingginya permintaan.

img_title Menjelang Pilur Bantul, PKS Ingatkan Warga Waspada Penyalahgunaan Fotokopi KTP

Erik menjelaskan bahwa Pemkot Malang menjalin kerjasama erat dengan perguruan tinggi melalui Tri Dharma, khususnya dengan memperbanyak program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Malang. Mahasiswa didorong untuk terlibat langsung dalam pemberdayaan masyarakat, membantu pemerintah menyusun, mengumpulkan, dan mempresentasikan data kependudukan terbaru. Program ini terbukti sukses melalui inisiatif Kelurahan Cinta Statistik (Cantik) yang meningkatkan literasi dan tata kelola di 57 kelurahan.

Kunjungan Pemkab Bantul ke Malang menjadi langkah strategis untuk menyiapkan tata kelola yang lebih baik dalam menghadapi derasnya arus mahasiswa. Dengan jumlah perguruan tinggi yang terus bertambah, Bantul berpotensi menjadi pusat pendidikan baru di Yogyakarta. Namun, agar potensi tersebut benar-benar memberi manfaat, diperlukan sistem manajemen yang mampu mengintegrasikan peran perguruan tinggi dengan pembangunan daerah.

Melalui pembelajaran dari Malang, Bantul berharap dapat mengoptimalkan keberadaan kampus sebagai motor penggerak ekonomi, sosial, dan budaya. Sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi diharapkan mampu menciptakan tata kelola yang berkelanjutan, sehingga Bantul tidak hanya menjadi penyangga Yogyakarta, tetapi juga pusat inovasi dan pengembangan sumber daya manusia.