Koperasi Merah Putih Yogya Bangkitkan Ekonomi Lokal Lewat Batik dan Program Pangan
- Dok Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Puluhan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Kota Yogyakarta kini resmi beroperasi, meski belum memiliki gerai permanen. Peresmian serentak 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dilakukan Presiden RI Prabowo Subianto pada Sabtu (16/05/2026), dan jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mengikuti kegiatan tersebut secara daring dari Gunungketur. Di lokasi itu, KKMP setempat menampilkan aktivitas produksi batik Segoro Amarto Reborn, yang menjadi seragam resmi ASN Pemkot Yogyakarta.
Walikota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Wakil Walikota Wawan Harmawan dan Komandan Kodim 0734 Kota Yogyakarta Letkol Inf Arif Setiyono turut mencoba membatik dengan teknik cap. Hasto menegaskan bahwa meski belum memiliki gerai karena keterbatasan lahan, KKMP tetap aktif menjalankan usaha. Ia mencontohkan delapan unit usaha batik cap yang telah melayani kebutuhan seragam batik Segoro Amarto bagi 6.500 ASN. Menurutnya, capaian ini menunjukkan bahwa koperasi bukan sekadar simbol, melainkan wadah nyata bagi pengrajin untuk berkarya.
Sebagai kota batik yang diakui UNESCO, Yogyakarta kini memiliki delapan KKMP yang memproduksi batik cap dalam jumlah besar. Hasto berharap koperasi dapat menjadi pengepul sekaligus pusat distribusi batik, sehingga kebutuhan lokal maupun wisatawan bisa terpenuhi. Ia juga menambahkan bahwa KKMP tengah menyiapkan produksi gelombang kedua untuk seragam sekolah, dengan target 65.000 siswa. “Koperasi Merah Putih harus menjadi motor penggerak UMKM dan pengrajin batik agar tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.
Selain batik, Pemkot Yogyakarta menyiapkan lahan untuk mendukung aktivitas KKMP. Kasultanan Ngayogyakarta memberikan palilah atau hak penggunaan lahan seluas 3.000 meter persegi di Umbulharjo. Dari total lahan itu, 1.000 meter persegi akan digunakan untuk infrastruktur KKMP, 1.000 meter persegi untuk bioflok budidaya ikan lele, dan 1.000 meter persegi untuk program integrated farming yang mengolah sampah menjadi pupuk. Hasto menekankan bahwa program ini bukan hanya mendukung usaha koperasi, tetapi juga solusi atas persoalan lingkungan.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto, menyebutkan bahwa dari 45 kelurahan di kota, 32 sudah memiliki KKMP aktif. Usaha yang dikembangkan beragam, mulai dari batik, penyediaan bahan pokok, hingga layanan keuangan tanpa kantor (Laku Pandai). KKMP juga bermitra dengan hotel dan layanan kesehatan gigi untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Karena belum ada gerai, aktivitas koperasi sementara memanfaatkan lahan milik pengurus. Tri menegaskan bahwa koperasi berbasis potensi lokal akan memudahkan pengrajin dalam mengelola bahan baku hingga pemasaran.