Api Perjuangan Kosgoro: Dari Medan Tempur ke Ekonomi Rakyat
- Istimewa
VIVA Jogja - Semangat kemerdekaan Indonesia tidak pernah berhenti di garis depan pertempuran. Ia terus menyala, berpindah dari medan perang menuju arena pembangunan yang berakar pada ekonomi rakyat. Narasi ini kembali ditegaskan dalam refleksi perjalanan KOSGORO 1957, sebuah organisasi yang lahir dari rahim para pejuang dan kini ditantang untuk tetap relevan di era modern yang penuh dinamika.
KOSGORO 1957 didirikan pada 10 November 1957 oleh Mas Isman bersama para eks pejuang PETA. Kehadirannya merupakan jawaban atas persoalan besar pascakemerdekaan: kemiskinan, ketimpangan, dan lemahnya daya organisasi rakyat. Para pendiri meyakini bahwa kemerdekaan politik tidak akan berarti tanpa kemandirian ekonomi. Semangat gotong royong menjadi fondasi utama, sebuah nilai yang diyakini mampu membangun kekuatan ekonomi rakyat sekaligus memperkuat persatuan bangsa.
Ketua DPP Golkar, La Ode Safiul Akbar, dalam pernyataan tertulisanya menegaskan bahwa semangat perjuangan KOSGORO tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah. “Api perjuangan itu harus terus dijaga dan diterjemahkan dalam kerja nyata, terutama dalam memperkuat ekonomi rakyat yang menjadi fondasi kemandirian bangsa,” ujarnya pada Sabtu, 23 Mei 2026. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa organisasi yang lahir dari semangat pengabdian harus terus bergerak, bukan sekadar menjadi simbol masa lalu.
Dalam perjalanan politik nasional, KOSGORO mengambil peran strategis sebagai salah satu organisasi pendiri Sekretariat Bersama Golongan Karya (Golkar). Perannya bukan sekadar pelengkap, melainkan akar yang menumbuhkan budaya kaderisasi, pengabdian, dan kerja nyata. Politik bagi KOSGORO dipandang sebagai instrumen pembangunan, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Dengan pendekatan ini, organisasi mampu menempatkan dirinya sebagai motor penggerak yang menyalurkan energi perjuangan ke arah pembangunan bangsa.
Namun, tantangan zaman menuntut lebih dari sekadar mengingat sejarah. KOSGORO dituntut melahirkan kader yang tidak hanya piawai berbicara tentang masa lalu, tetapi juga sanggup mengelola masa kini dan mempersiapkan masa depan. Organisasi ini harus mampu menjawab kebutuhan generasi baru yang hidup di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan perubahan sosial-ekonomi yang begitu cepat.
Ke depan, arah perjuangan KOSGORO diarahkan pada sektor-sektor strategis yang menyentuh langsung kehidupan rakyat. Koperasi modern, ekonomi digital berbasis rakyat, UMKM yang ditopang teknologi, ketahanan pangan, hingga industri kreatif menjadi medan baru perjuangan. Gotong royong pun ditafsir ulang, bukan hanya sebagai solidaritas sosial, melainkan kolaborasi ekonomi yang mendorong inovasi dan kemandirian. Dengan cara ini, nilai lama tetap hidup namun diberi makna baru sesuai kebutuhan zaman.