Kasus Nadhif Basalamah Jadi Cermin Pentingnya Etika Digital

Dr. Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi UMY
Sumber :
  • Dok UMY

BANTUL, VIVA Jogja - Kasus pelecehan verbal yang menimpa musisi muda Nadhif Basalamah di media sosial pada Minggu, 28 Juni 2026, kembali membuka mata publik tentang rapuhnya etika komunikasi di ruang digital. Melalui akun pribadinya, pelantun lagu “Kota Ini Tak Sama Tanpamu” mengungkapkan bahwa dirinya menjadi sasaran komentar bernuansa seksual yang vulgar dan tidak pantas. Ungkapan-ungkapan tersebut bukan hanya melampaui batas kesopanan, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologisnya. Tubuh dan identitas pribadi dijadikan objek fantasi tanpa persetujuan, sebuah bentuk pelecehan yang menegaskan bahwa ruang maya masih jauh dari kata aman.

img_title Pengkritik Pemerintah Lebih Populer daripada Pemberi Solusi, Pujiono Soroti Budaya Medsos

Fenomena ini mendapat sorotan dari Dr Fajar Junaedi, pakar komunikasi sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Menurutnya, kasus Nadhif menunjukkan bahwa media sosial belum sepenuhnya menjadi ruang sehat untuk bertukar gagasan, memberikan apresiasi, atau menyampaikan kritik yang membangun. Ia menegaskan bahwa komentar bernuansa seksual adalah pelanggaran terhadap martabat manusia. Etika komunikasi mengajarkan bahwa setiap individu harus diperlakukan sebagai subjek yang memiliki hak dan perasaan, bukan sekadar objek fantasi.

Fajar mengaitkan fenomena ini dengan teori etika deontologi yang dikembangkan Immanuel Kant. Dalam kerangka tersebut, manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri, bukan sebagai alat untuk kepuasan pihak lain. Komentar pelecehan seksual, meski dilandasi alasan bercanda, tetap melanggar kewajiban moral untuk menghormati sesama. Ia menekankan bahwa kebebasan berekspresi memang bagian penting dari demokrasi, tetapi kebebasan itu selalu disertai tanggung jawab etis. Ketika komentar merendahkan atau menyakiti orang lain, kebebasan berekspresi telah melampaui batas moral.

img_title Film Dokumenter, Menyuarakan Realitas dan Memantik Ruang Publik

Kasus ini juga menjadi cermin bahwa literasi digital masyarakat masih perlu diperkuat. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan media sosial atau memahami teknologi, melainkan juga kemampuan berpikir kritis, membangun empati, dan bertanggung jawab atas jejak digital. Fajar menekankan pentingnya digital empathy, yakni kesadaran bahwa di balik setiap akun terdapat manusia dengan perasaan yang bisa terguncang oleh komentar yang diterimanya. Ia mengajak masyarakat untuk membiasakan refleksi sebelum berkomentar, dengan menanyakan apakah komentar tersebut menghormati orang lain, layak disampaikan secara langsung, dan apa dampaknya bagi penerima.

Halaman Selanjutnya
img_title