Dampak Disinformasi dan Algoritma terhadap Opini Publik

Kampus UGM
Sumber :
  • Humas UGM

Direktur Eksekutif AMSI, Elin Y Kristanti, menyoroti dampak digitalisasi terhadap media massa. Ia menyebut bahwa algoritma telah mengubah orientasi media dari melayani pembaca menjadi melayani mesin. “Kini media kehilangan pembaca dan pendapatan, karena konten diserap AI tanpa kompensasi,” ungkapnya. Elin juga menegaskan pentingnya peran media dalam menjaga demokrasi. “Kita tidak bisa menyerahkan demokrasi kepada netizen. Media harus tetap menjadi pengawal,” tegasnya.

img_title Paska Lebaran Stok Pangan di Yogya Stabil

Fransiskus Surdiarsis dari Komite Independen Publisher Right menambahkan bahwa platform AI sering menggunakan konten media untuk melatih sistemnya tanpa memberikan imbalan. Ia menyerukan perlunya regulasi ketat agar AI bertanggung jawab terhadap ekosistem media. “Produksi disinformasi meningkat tajam karena AI. Ini ancaman nyata,” katanya.

Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UGM, Abdul Gaffar Karim, menutup sesi dengan refleksi politik. Ia menyebut disinformasi sebagai faktor utama penurunan kualitas demokrasi modern. “Disinformasi bukan sekadar gangguan, tapi alat yang dipelihara oleh aristokrat untuk mempertahankan kekuasaan,” ujarnya. Gaffar menegaskan bahwa perang melawan disinformasi adalah kunci untuk memperkuat demokrasi.

img_title Trauma Kompleks pada Dewasa Muda: Saat Rumah Tak Lagi Menjadi Ruang Aman

Seminar ini menjadi momentum penting bagi insan pers, akademisi, dan pegiat media untuk bersama-sama menghadapi tantangan era digital dengan pendekatan kritis, kolaboratif, dan berbasis etika.