Mendekatkan Harapan, Merawat yang Terlupakan
- VIVA Jogja/dokpri
Di wilayah-wilayah yang ia kunjungi, dr. Anita paling sering menemui keluhan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Banyak pasien datang dengan rasa cemas berlebihan, kesedihan berkepanjangan, atau kesulitan tidur yang sudah berlangsung lama.
Menurutnya, hal ini menunjukkan kebutuhan besar masyarakat akan ruang aman untuk bercerita. “Kadang konsultasi bisa sampai satu jam. Mereka benar-benar butuh tempat untuk meluapkan perasaannya, karena tidak punya ruang itu di lingkungan mereka,” katanya.
Antusiasme Masyarakat
Meskipun stigma masih muncul di beberapa daerah, dr. Anita melihat perubahan positif. Masyarakat mulai lebih terbuka terhadap layanan kesehatan jiwa. Banyak yang baru menyadari bahwa gangguan psikologis dapat ditangani di puskesmas dan bahkan dijamin oleh BPJS Kesehatan.
dr Anita (no 2 dari kiri) saat program speling
- VIVA Jogja/dokpri
“Puskesmas di Jawa Tengah sudah punya layanan jiwa. Jadi gangguan ringan bisa ditangani di tingkat dasar, dan jika perlu dirujuk, kami berikan surat pengantar yang bisa dipakai BPJS,” jelasnya.
Kendati tidak mengalami keterbatasan fasilitas medis secara signifikan, dr. Anita menilai ketersediaan ruang konsultasi privat sangat penting. Ruang yang terlalu ramai atau kurang kondusif dapat mengganggu proses konsultasi yang membutuhkan keheningan dan privasi.
“Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang tenang dan tisu, karena banyak pasien menangis. Itu saja sudah cukup membantu,” ujarnya.
Dalam program Speling, dr. Anita tidak memberikan obat karena tahap awal lebih difokuskan pada psikoedukasi, pendampingan emosional, dan identifikasi masalah. Setelah itu, pasien yang perlu penanganan lebih lanjut dirujuk ke layanan spesialistik.
“Banyak yang sudah terbantu hanya dengan didengarkan, dijelaskan, dan diarahkan,” tuturnya.
dr Anita (tengah) di panti Waluyotomo Jepara
- VIVA Jogja/dokpri
Salah satu pengalaman paling menyentuh terjadi ketika seorang pasien gangguan jiwa datang bersama caregiver yang tak lain adalah orang tuanya.
Setelah wawancara, dr. Anita menemukan bahwa sang pendamping ternyata mengalami ketidakstabilan emosional yang cukup berat.
“Dia terlalu fokus merawat anaknya sampai tidak sadar kalau dirinya juga membutuhkan layanan kesehatan jiwa,” ungkapnya. “Kasus seperti ini menunjukkan bahwa saat satu anggota keluarga terdampak, semua ikut merasakan beban psikologisnya.”
Membuka Ruang Mendengar