Mendekatkan Harapan, Merawat yang Terlupakan
- VIVA Jogja/dokpri
Dalam beberapa penugasan, dr. Prima kerap menemukan kasus TB yang sudah terlambat terdiagnosis. Kebanyakan disebabkan oleh keengganan pasien dengan gejala TB untuk segera memeriksakan diri.
“Kesadaran ini yang masih harus dikuatkan,” katanya.
Ia juga menyoroti ketimpangan fasilitas antarwilayah. Di kota besar, akses X-ray, GeneXpert, dan pemeriksaan mikroskopis relatif mudah dijangkau.
Namun di daerah terpencil, alat-alat tersebut masih sangat terbatas. Selama program Speling, dr. Prima menerapkan strategi deteksi dini secara aktif dan masif, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Ia juga memberikan saran pengobatan serta konseling kepada pasien maupun keluarga.
“Dukungan emosional sama pentingnya dengan pengobatan,” tegasnya.
dr Prima Karita Sari, Sp.P (no 7 dari kiri) saat speling di Tegal
- VIVA Jogja/dokpri
Selain kasus TB biasa, ia juga menemukan sejumlah pasien TB Resisten Obat (TB RO). Pasien yang teridentifikasi langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan TB RO. Namun tidak semua bersedia menjalani pengobatan. “Ini kendala terbesar dalam menangani TB RO,” kata dr. Prima.
Ia menilai kolaborasi dengan puskesmas, kader kesehatan, dan relawan lokal sangat krusial. Kader menjadi pengawas minum obat, pemberi motivasi, sekaligus pendukung moral bagi pasien.
“Mereka membantu memastikan pasien menyelesaikan pengobatannya. Tanpa pendampingan ini, risiko putus obat sangat besar,” jelasnya.
Komitmen Politik
Salah satu pengalaman paling membekas baginya adalah ketika seorang kader puskesmas bercerita tentang perjuangannya mendampingi pasien TB setelah adiknya sendiri tertular TB RO dari rekan kerja. Kisah itu menunjukkan betapa kuatnya peran kader sebagai garda depan dalam memutus rantai penularan TB.
“Saya selalu berupaya menjelaskan TB dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat. Ini penting agar mereka tidak takut dan mau memeriksakan diri,” ungkap dr. Prima.
Berdasarkan pengalamannya, ia menilai pemerintah perlu memperkuat komitmen politik dan pendekatan multisektor dalam pemberantasan TB.
Peningkatan akses diagnostik, terutama penambahan X-ray portable di daerah terpencil, dianggap menjadi langkah mendesak. Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan pengetahuan masyarakat terkait cara penularan, pencegahan, dan urgensi pengobatan tuntas.
“Gerakan TOSS TB (Temukan TB, Obati Sampai Sembuh) harus terus dikampanyekan untuk menghilangkan stigma dan meningkatkan partisipasi masyarakat,” pungkasnya.