Mendekatkan Harapan, Merawat yang Terlupakan

dr Anita Virgiyanti,Sp.KJ (kiri) saat speling di Simpang Lima
Sumber :
  • VIVA Jogja/dokpri

Dalam beberapa penugasan, dr. Prima kerap menemukan kasus TB yang sudah terlambat terdiagnosis. Kebanyakan disebabkan oleh keengganan pasien dengan gejala TB untuk segera memeriksakan diri.

img_title Jateng Genjot Wisata Ramah Muslim, Tawangmangu Jadi Role Model

“Kesadaran ini yang masih harus dikuatkan,” katanya.

Ia juga menyoroti ketimpangan fasilitas antarwilayah. Di kota besar, akses X-ray, GeneXpert, dan pemeriksaan mikroskopis relatif mudah dijangkau.

img_title APBD 2026 Digeber, Pemprov Jateng Mulai Akselerasi Program Sejak Awal Tahun

Namun di daerah terpencil, alat-alat tersebut masih sangat terbatas. Selama program Speling, dr. Prima menerapkan strategi deteksi dini secara aktif dan masif, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Ia juga memberikan saran pengobatan serta konseling kepada pasien maupun keluarga.

“Dukungan emosional sama pentingnya dengan pengobatan,” tegasnya.

img_title Pemprov Jateng Pastikan Tali Asih Hafiz Al-Qur’an Berlanjut di 2026

dr Prima Karita Sari, Sp.P (no 7 dari kiri) saat speling di Tegal

Photo :
  • VIVA Jogja/dokpri

Selain kasus TB biasa, ia juga menemukan sejumlah pasien TB Resisten Obat (TB RO). Pasien yang teridentifikasi langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan TB RO. Namun tidak semua bersedia menjalani pengobatan. “Ini kendala terbesar dalam menangani TB RO,” kata dr. Prima.

Ia menilai kolaborasi dengan puskesmas, kader kesehatan, dan relawan lokal sangat krusial. Kader menjadi pengawas minum obat, pemberi motivasi, sekaligus pendukung moral bagi pasien.

“Mereka membantu memastikan pasien menyelesaikan pengobatannya. Tanpa pendampingan ini, risiko putus obat sangat besar,” jelasnya.

Komitmen Politik

Salah satu pengalaman paling membekas baginya adalah ketika seorang kader puskesmas bercerita tentang perjuangannya mendampingi pasien TB setelah adiknya sendiri tertular TB RO dari rekan kerja. Kisah itu menunjukkan betapa kuatnya peran kader sebagai garda depan dalam memutus rantai penularan TB.

“Saya selalu berupaya menjelaskan TB dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami masyarakat. Ini penting agar mereka tidak takut dan mau memeriksakan diri,” ungkap dr. Prima.

Berdasarkan pengalamannya, ia menilai pemerintah perlu memperkuat komitmen politik dan pendekatan multisektor dalam pemberantasan TB.

Peningkatan akses diagnostik, terutama penambahan X-ray portable di daerah terpencil, dianggap menjadi langkah mendesak. Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan pengetahuan masyarakat terkait cara penularan, pencegahan, dan urgensi pengobatan tuntas.

“Gerakan TOSS TB (Temukan TB, Obati Sampai Sembuh) harus terus dikampanyekan untuk menghilangkan stigma dan meningkatkan partisipasi masyarakat,” pungkasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title