Mendekatkan Harapan, Merawat yang Terlupakan
- VIVA Jogja/dokpri
Sutopo juga mendorong integrasi program speling dengan sistem layanan kesehatan yang sudah ada, seperti puskesmas dan rumah sakit rujukan.
Puskesmas, katanya, dapat berperan sebagai gatekeeper untuk melakukan seleksi pasien dan menyiapkan fasilitas ketika dokter spesialis datang. “Integrasi digital juga penting, terutama rekam medis yang bisa diakses lintas fasilitas agar tidak terjadi pemeriksaan berulang. Termasuk sinkronisasi dengan sistem klaim BPJS, supaya tidak membingungkan antara layanan primer dan rumah sakit rujukan,” jelasnya.
Indikator Keberhasilan
Lebih lanjut, Sutopo memaparkan indikator keberhasilan program ini dapat dilihat dalam tiga tahap: jangka pendek, menengah, dan panjang.
Dalam jangka pendek, indikatornya mencakup jumlah pasien yang dilayani, pemerataan cakupan wilayah, serta kepuasan pasien dan tenaga medis. Dalam jangka menengah, diharapkan jumlah rujukan menurun dan pelayanan primer makin mandiri. Sedangkan dalam jangka panjang, dampaknya diukur dari peningkatan status kesehatan masyarakat dan efisiensi pembiayaan kesehatan.
“Jika dijalankan berkesinambungan, speling bisa menurunkan morbiditas dan mortalitas kasus-kasus berat karena deteksi dini lebih cepat. Tapi keberlanjutannya sangat bergantung pada komitmen politik dan anggaran,” ujarnya.
Mengenai potensi penerapan nasional, Sutopo menilai hal itu perlu kajian dan persiapan matang. Menurutnya, ketimpangan distribusi dokter spesialis yang masih terpusat di Jawa–Bali (lebih dari 80%) menjadi hambatan besar untuk replikasi di luar Jawa.
“Kalau langsung diterapkan di seluruh Indonesia tanpa persiapan, justru bisa menimbulkan beban berlebih bagi dokter di daerah lain, serta potensi konflik dan ekspektasi masyarakat yang tidak realistis,” katanya.
Ia juga mengingatkan perlunya perlindungan hukum dan regulasi yang jelas bagi dokter spesialis yang terlibat dalam program tersebut, agar tidak menanggung risiko ganda dalam praktik di lapangan.
“Speling ini patut diapresiasi sebagai inovasi jangka pendek. Tapi untuk jangka panjang, pemerintah perlu memperbaiki sistem produksi, distribusi, dan perlindungan tenaga spesialis agar pemerataan layanan benar-benar berkelanjutan,” pungkas Sutopo.