Mendekatkan Harapan, Merawat yang Terlupakan
- VIVA Jogja/dokpri
Menurut dr. Anita, Speling sejalan dengan program pemerintah terkait Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Melalui pelatihan ini, tenaga kesehatan hingga masyarakat awam diajarkan cara melihat tanda-tanda krisis psikologis, mendengar secara empatik, dan menghubungkan pasien ke fasilitas kesehatan.
“Artinya, tidak hanya psikiater yang bisa mendengar. Masyarakat pun bisa menjadi penolong pertama bagi sesamanya,” kata dr. Anita.
Ia berharap Speling terus dilanjutkan, terutama untuk menjangkau kasus-kasus yang selama ini tidak tersentuh. Banyak pasien yang sebenarnya membutuhkan layanan jiwa tetapi tidak mampu atau tidak punya akses untuk pergi ke spesialis karena jarak dan biaya.
“Speling menjadi jembatan, mendekatkan layanan ke masyarakat, dan itu sangat berarti bagi mereka,” pungkasnya. Dengan semakin terbukanya pemahaman masyarakat tentang kesehatan jiwa, dr. Anita percaya bahwa Speling dapat menjadi katalis penting dalam mengurangi stigma, memperluas akses layanan, dan memastikan bahwa setiap orang memiliki tempat aman untuk pulih dan bercerita.
Stigma TB dan Minimnya Fasilitas
Pengalaman menarik juga dirasakan oleh dr. Prima Karita Sari, Sp.P. Sejawat dr Anita di di Rumah Sakit Mata Daerah Soepardjo Roestam Semarang ini, mengaku telah lima kali mengikuti penugasan Speling, khususnya untuk penanganan penyakit paru dan tuberkulosis (TB).
dr Prima Karita Sari, Sp.P saat periksa pasien
- VIVA Jogja/dokpri
Dalam setiap penugasan, dokter spesialis Paru ini melihat secara langsung bagaimana kondisi epidemiologi TB beragam antarwilayah.
“Daerah yang letaknya jauh dari pusat kota relatif lebih banyak ditemukan kasus terduga TB. Kasus tersebut kemudian kami teruskan ke puskesmas setempat untuk pemeriksaan diagnostik,” ujarnya.
Menurutnya, perburuan kasus TB di daerah terpencil masih dibayangi stigma dan minimnya fasilitas penunjang. Banyak penderita enggan minum obat atau meneruskan pengobatan karena takut dijauhi. “Ini tantangan terbesar. Kami harus terus memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat,” katanya.
Keterbatasan fasilitas diagnostik seperti rontgen dan Tes Cepat Molekular (TCM) juga memperlambat penemuan kasus. Kehadiran TB XPRESS, inovasi skrining dengan X-ray portable, dinilai membantu mempercepat penemuan kasus aktif.
“Program ini, jika diintegrasikan dengan Speling Melesat, membuat hasil rontgen bisa langsung ditindaklanjuti oleh dokter spesialis,” tambahnya.