Inovasi Laboratorium Virtual Mahasiswa UGM Raih Juara Internasional
- Dok Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Tim mahasiswa dari Program Studi Kimia dan Teknik Fisika berhasil meraih Juara Pertama dalam International Student Competition kategori esai, sebuah ajang bergengsi yang digelar atas kerja sama tiga perguruan tinggi dari Indonesia, Filipina, dan Malaysia.
Kompetisi yang berlangsung sejak Oktober hingga November 2025 itu mengangkat tema “Voices of Change: Creativity, Innovation, and Humanity for a Sustainable Future.” Tema ini menjadi wadah bagi mahasiswa dari berbagai negara untuk menyampaikan gagasan kreatif dalam menjawab tantangan masa depan yang berkelanjutan.
Tim UGM yang terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Hanafi Nur Yasin, dan Thoha Fatahillah, tampil dengan esai berjudul “Virly (Virtual Reality Chemistry Laboratory): Reimagining the Lab as a Catalyst for Education Equality and Scientific Competitiveness in Southeast Asia.” Gagasan tersebut lahir dari keprihatinan atas ketimpangan fasilitas pendidikan sains di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketua tim, Pandu Sukma Hastyadi, menjelaskan bahwa rendahnya literasi sains di kawasan ASEAN berhubungan erat dengan keterbatasan akses laboratorium di sekolah. “Banyak sekolah di pelosok tidak memiliki laboratorium kimia karena biaya alat yang mahal dan risiko keselamatan. Akibatnya, siswa hanya belajar teori tanpa praktik,” ujarnya di Kampus UGM.
Sebagai solusi, tim ini menawarkan Virly, laboratorium kimia berbasis teknologi Virtual Reality. Perangkat tersebut dirancang sederhana dengan memanfaatkan kacamata VR berbasis Google Cardboard. Lensa dibuat dari limbah kardus dan botol plastik bekas sehingga biaya produksi dapat ditekan hingga sekitar Rp15.000 per unit. Dengan dukungan smartphone Android dan controller sederhana, siswa dapat melakukan simulasi praktikum kimia kompleks seperti titrasi, destilasi, uji elektrolit, hingga uji asam basa secara aman dan berulang.
Hanafi Nur Yasin menambahkan, inovasi ini tidak hanya murah, tetapi juga ramah lingkungan. “Siswa bisa bereksperimen tanpa takut memecahkan alat gelas atau terpapar bahan kimia berbahaya. Virly memberi kesempatan belajar yang lebih setara,” katanya.
Kemenangan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UGM mampu bersaing di kancah internasional dengan gagasan yang relevan terhadap era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Teknologi yang ditawarkan tidak hanya menekankan aspek modernitas, tetapi juga menghadirkan solusi humanis bagi masalah sosial, khususnya akses pendidikan sains.