Putri Papua Lulus Dokter Spesialis Tercepat di UGM

dr Merlins Renatasia Waromi
Sumber :
  • Dok Humas UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja -  Perasaan bangga dan syukur menyelimuti dr Merlins Renatasia Waromi, Sp.MK, usai dinobatkan sebagai lulusan tercepat Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk jenjang pendidikan dokter spesialis. Dokter asal Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua ini berhasil menuntaskan pendidikan spesialis mikrobiologi klinik hanya dalam waktu 3 tahun 2 bulan 16 hari. Ia resmi diwisuda pada Program Pascasarjana Periode II 2025/2026, Rabu (21/01/2026).

img_title UGM Hadirkan Buku Asesmen Programatik, Dorong Transformasi Pendidikan Kedokteran

Capaian Merlins terbilang istimewa. Dari 118 lulusan spesialis, rata-rata masa studi mencapai 4 tahun. Bahkan, ia sempat mengambil cuti melahirkan selama tiga bulan. “Sangat bersyukur bisa menempuh pendidikan dengan waktu singkat. Kalau tidak sempat cuti melahirkan, mungkin bisa selesai dalam 2 tahun sekian,” ujarnya, Rabu (04/02/2026).

Merlins menamatkan pendidikan sarjana dan profesi dokter di Universitas Cendrawasih, Jayapura. Keputusan melanjutkan studi ke UGM didorong oleh kenyamanan banyak mahasiswa Papua yang menganggap Yogyakarta sebagai rumah kedua. “Warga Jogja sangat ramah dan menerima pendatang. Yogyakarta bagi kami orang Papua seperti rumah kedua,” katanya.

img_title RI Rencanakan Pembangunan PLTN, UGM Siap Dukung dari Sisi SDM

Kesempatan ini tak lepas dari kerja sama UGM dengan pemerintah daerah Papua Barat melalui beasiswa Otonomi Khusus (Otsus) bagi Orang Asli Papua (OAP). “UGM menjalin banyak MoU dengan daerah-daerah di Indonesia Timur. Saya bisa sekolah karena dukungan pemerintah daerah melalui kerja sama tersebut,” jelasnya.

Pilihan Spesialisasi

img_title Mayoritas Pekerja Indonesia Masih Informal, Ekonom UGM Dorong Perlindungan Ketenagakerjaan

Ketertarikan Merlins pada mikrobiologi berawal dari kegemarannya mengamati media pertumbuhan bakteri dan jamur. “Warnanya bermacam-macam dan cantik. Selain itu, penyakit infeksi adalah kasus terbanyak di dunia kedokteran. Indonesia termasuk negara dengan beban infeksi tertinggi, sehingga bidang ini sangat penting,” ungkapnya.

Selama studi, ia menghadapi tantangan besar terkait standar kualitas pendidikan yang berbeda dengan kampus asalnya. Untuk mengatasinya, Merlins berusaha aktif mencari referensi, bertanya kepada rekan mahasiswa, tenaga medis, hingga dosen. “Saya orangnya mudah bergaul dan tidak malu bertanya. Dari situ saya bisa menemukan solusi,” kenangnya.

Dalam penelitian, Merlins menyoroti profil bakteri penyebab infeksi akibat penggunaan kateter di rumah sakit. Ia meneliti kasus Catheter-associated urinary tract infection (CAUTI) di RSUP Dr. Sardjito. “Angka kejadian CAUTI cukup tinggi. Faktor risiko utamanya adalah penurunan kesadaran pasien dan riwayat pembedahan,” terangnya.

Halaman Selanjutnya
img_title