Gandeng NVIDIA dan Indosat, UGM Riset AI untuk Medis dan Smart City
- Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat langkahnya dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan menjalin kerja sama strategis bersama NVIDIA dan Indosat Ooredoo Hutchison. Kolaborasi ini menjadi bagian dari program UGM AI Center of Excellence yang berfokus pada riset akademik, pengembangan komunitas, serta integrasi kebutuhan industri.
Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr Mardhani Riasetiawan, menegaskan bahwa kerja sama ini bertujuan membangun ekosistem riset AI yang terbuka, berkelanjutan, dan mendukung kebijakan nasional. “Inisiatif ini bukan hanya untuk menaikkan kapasitas akademik, tetapi juga menjembatani kebutuhan industri dan pemerintah. Dengan begitu, AI bisa berkembang lebih luas dan bermanfaat nyata,” ujarnya.
UGM menyiapkan infrastruktur riset berupa DGX Station, superkomputer AI berperforma tinggi yang ditempatkan di Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA. Fasilitas ini diharapkan menjadi pusat aktivitas riset berbasis AI, mulai dari bidang medis, energi, hingga teknologi pintar. Dalam bidang kesehatan, AI diyakini mampu mempercepat diagnosis dan mendukung pengambilan keputusan klinis. “Saat pandemi Covid-19, kami merasakan betul manfaat AI, tetapi keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan. Kolaborasi ini menjawab kebutuhan tersebut,” kata dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, peneliti AI medis FK-KMK UGM.
Senior Regional Manager NVIDIA AI Technology Center, Dr. Ng Aik Beng, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengembangkan sejumlah framework AI yang siap digunakan, termasuk MONAI untuk pencitraan medis dan Metropolis untuk aplikasi smart city. MONAI, yang bersifat open-source, memungkinkan proses end-to-end mulai dari anotasi data hingga deployment di rumah sakit, dengan tetap menjaga privasi pasien. Sementara Metropolis mendukung analitik video skala besar untuk sistem transportasi, pengawasan, dan infrastruktur cerdas. “Tujuannya mempercepat riset sekaligus memastikan implementasi AI berjalan standar dan interoperabel,” jelasnya.
Selain perangkat keras dan perangkat lunak, NVIDIA juga menekankan pentingnya ekosistem pendidikan dan pengembangan kapasitas. Solutions Architect NVIDIA, Timothy Liu, menambahkan bahwa perusahaan tidak hanya memproduksi GPU, tetapi juga menyediakan software development kit, library, dan program pelatihan untuk mempercepat eksperimen serta produktivitas AI. “Kami ingin memastikan seluruh ekosistem saling mendukung, sehingga adopsi AI bisa matang dan berkelanjutan,” katanya.