Jangan Anggap Ringan, Leptospirosis ancam nyawa
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kasus penyakit leptospirosis atau yang dikenal sebagai penyakit kencing tikus kembali meningkat pada awal tahun 2026. Kondisi ini berkaitan dengan musim hujan yang masih berlangsung, sehingga risiko penularan tetap tinggi. Secara global, leptospirosis dilaporkan lebih dari 1 juta kasus setiap tahun dengan angka kematian mencapai 60 ribu jiwa. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat tren peningkatan kasus sepanjang Juli hingga Agustus 2025. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 1.014 kasus, disusul DI Yogyakarta 703 kasus, Jawa Timur 487 kasus, Jawa Barat 220 kasus, Banten 149 kasus, dan Jakarta 39 kasus.
Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Akademik UGM, dr. Noviantoro Sunarko Putro, Sp.PD., menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang tidak hanya menginfeksi tikus, tetapi juga mamalia lain seperti kucing, anjing, sapi, babi, kambing, dan domba. “Bakteri ini dapat bertahan di kandung kemih tikus selama berbulan-bulan dan dikeluarkan melalui urin, sehingga berpotensi menularkan infeksi ke lingkungan dalam waktu lama,” ujarnya, Rabu (11/2).
Gejala leptospirosis sering sulit dikenali karena menyerupai penyakit infeksi lain. Sebagian besar kasus bersifat ringan dengan keluhan demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun, nyeri otot pada leptospirosis memiliki ciri khas di betis, punggung, dan perut. Pada kasus berat, penyakit ini ditandai dengan perdarahan, gangguan hati yang membuat tubuh menguning, serta gagal ginjal akut yang menyebabkan produksi urin menurun. “Akibatnya racun yang seharusnya dibuang lewat kencing menumpuk di dalam tubuh dan meracuni organ,” jelas dr. Koko, sapaan akrabnya.
Penularan terjadi ketika bakteri masuk melalui kulit yang terluka atau mukosa seperti mata dan mulut. Lingkungan lembab dan air tergenang menjadi media bertahan hidup bakteri hingga berbulan-bulan, sehingga musim hujan menjadi faktor risiko utama. Karena itu, masyarakat disarankan menghindari kontak dengan air tergenang dan menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan serta sepatu boot saat beraktivitas di area berisiko.
Lebih lanjut, dr. Koko menekankan pentingnya pemeriksaan medis segera apabila muncul gejala berat. Informasi riwayat paparan lingkungan dari pasien sangat membantu dokter, mengingat leptospirosis kerap sulit dibedakan dari penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) atau tifus. “DBD biasanya berisiko fatal di minggu pertama, sedangkan leptospirosis bisa berbahaya di minggu kedua atau setelahnya,” ungkapnya.