Defisit Neraca Pembayaran Jadi Alarm pergerakan Ekonomi

Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada
Sumber :
  • Istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Indonesia kembali menghadapi tantangan serius dalam ketahanan eksternal. Sepanjang tahun 2025, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit selama tiga kuartal berturut-turut, mulai dari triwulan pertama hingga triwulan ketiga. Laporan Bank Indonesia menunjukkan bahwa pelemahan ini terutama dipicu oleh rendahnya arus modal asing yang masuk, sehingga transaksi finansial mengalami tekanan cukup besar.

img_title Perguruan Tinggi Dorong Inovasi Energi dari Sampah Organik

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, menilai kondisi tersebut bukanlah cerminan dari masalah fundamental ekonomi domestik, melainkan lebih pada reaksi pasar terhadap ketidakpastian global. Meski demikian, catatan defisit yang berulang tetap menjadi peringatan penting agar stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu. “Defisit yang berulang adalah sinyal bahwa kita harus memperkuat kepercayaan investor,” ujarnya.

Rijadh menjelaskan, faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak dunia turut memperlebar defisit neraca perdagangan migas akibat tingginya biaya impor. Selain itu, arus keluar modal dari pasar obligasi dan saham memperparah tekanan pada transaksi modal dan finansial. Walau investasi langsung asing (FDI) masih menunjukkan surplus, derasnya capital outflow dari instrumen portofolio membuat posisi NPI secara keseluruhan negatif.

img_title Keraton Yogyakarta Terapkan Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono dalam Pengelolaan Sampah Terpadu

Di tengah situasi ini, Rijadh menekankan perlunya langkah strategis agar defisit tidak berlanjut. Ia menyebut tiga hal utama: memperkuat transaksi berjalan dengan meningkatkan daya saing ekspor dan mengembangkan pariwisata, menarik lebih banyak investasi langsung asing sekaligus memperdalam pasar keuangan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada modal asing, serta menjaga stabilitas nilai tukar dengan cadangan devisa yang memadai sebagai penyangga terhadap arus keluar modal mendadak.

Menurutnya, strategi tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter harus lebih erat dan konsisten agar kepercayaan pasar terhadap Indonesia tetap terjaga. “Kebijakan yang solid akan memperkuat persepsi risiko Indonesia di mata investor global dan membantu menahan capital outflow,” tegasnya.

img_title Kota Yogya Menuju Produktivitas Budaya: Refleksi Setahun Kepemimpinan Hasto-Wawan