26 Kampung di Aceh Masih Terisolasi, Bantuan perlu Lewat Udara dan Sungai
- Dok Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Status tanggap darurat banjir dan longsor di Aceh resmi diperpanjang hingga 22 Januari 2026. Pemerintah Provinsi Aceh mengambil langkah ini setelah laporan dari Kabupaten Aceh Tengah menyebutkan sedikitnya 26 kampung masih terisolasi akibat bencana. Jalan darat dan jembatan yang rusak belum tertangani, membuat akses menuju wilayah terdampak lumpuh total. Akibatnya, sejumlah korban belum tersentuh bantuan logistik, sementara pasokan yang ada masih sangat terbatas.
Pakar geomorfologi lingkungan Universitas Gadjah Mada, Prof. Djati Mardiatno, menilai kondisi keterisolasian ini harus segera diantisipasi dengan jalur alternatif. Menurutnya, udara dan sungai menjadi pilihan yang realistis untuk menyalurkan bantuan. “Kalau akses darat tidak mungkin, maka jalur udara atau sungai harus dipakai. Tidak ada pilihan lain,” tegasnya saat ditemui di Yogyakarta, Rabu (14/01/2026).
Djati menekankan pentingnya rencana contingency dalam setiap situasi tanggap darurat. Ia menjelaskan bahwa sebelum bencana terjadi, seharusnya sudah ada skenario penanganan bagi daerah-daerah yang berpotensi terisolasi. Dengan begitu, pasokan logistik bisa segera dikirim agar masyarakat terdampak mampu bertahan hidup, terutama untuk kebutuhan dasar.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan rencana tersebut belum berjalan optimal. Besarnya dampak banjir dan longsor di Sumatera mencerminkan lemahnya perencanaan konektivitas wilayah, khususnya di daerah rawan bencana. Djati menilai hal ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk memperkuat kesiapan menghadapi bencana serupa di masa mendatang.
Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan infrastruktur memperbesar risiko bencana. Pembukaan hutan yang masif membuat kemampuan lahan menyerap air hujan berkurang drastis. Ketika hujan ekstrem turun, air lebih banyak mengalir di permukaan, memicu erosi, longsor, banjir, hingga banjir bandang. “Kerusakan lahan dan infrastruktur saling memperparah. Jika tidak segera ditangani, risiko bencana akan terus meningkat,” pungkasnya.