Judi Online, Nikmat Maksiat yang Berujung Laknat
- VIVA Jogja/istock
Dari info seorang teman pula, tanpa berselancar di internet pun, beragam aplikasi judi online pun bersliweran di telepon pintarnya.
“Saya pun kenal dan terpikat dengan V-Tube, aplikasi nonton iklan, sistemnya pakai token, ada kelas-kelasnya, mulai bintang 1 hingga bintang diatasnya. Saya main mulai dari skala bintang 1 hingga bintang 5, saya mau fast track ke bintang 6, token saya sudah terkumpul Rp10 juta. Tiba-tiba, tak bisa dicairkan, karena aplikasinya keburu ditutup, diblokir pemerintah,” paparnya.
Dia pun harus merelakan uang puluhan juta itu. “Padahal, duit sebesar itu, sangat berharga di saat pandemi, saat penghasilan menurun drastis karena ekonomi yang terguncang,” ujarnya.
Apakah banyak yang menang? “Banyak banget. Ada yang menang sampai Rp200 juta. Saya lihat sendiri. Karena tergabung dalam komunitas, saya beli koin dari teman di Sulawesi, pernah juga beli dari Aceh,” imbuhnya.
Rupanya, pengalaman uang puluhan juta yang hangus itu, tak membuat dirinya kapok. Di tahun yang sama, dia kembali terpikat aplikasi Ya, Goal. Judi online yang model tebak-tebakan skor pertandingan sepak bola.
“Kita hanya tebak skor dan dapat poin. Poinnya dibeli dari sesama pemain. Jadi setelah poin kita terkumpul, kita jual ke teman yang butuh. Begitu pula sebaliknya. Main ini, saya sempat untung Rp1,2 juta.
Tapi belajar dari pengalaman, begitu menang saya langsung stop main, daripada kalah,” ujarnya tertawa.
Pemain kelas recehan seperti Donna, praktis jumlahnya jauh lebih banyak, jika dibandingkan dengan mereka yang jadi “kaki tangan” jaringan judi online.
Salah satunya, seperti Fajri Anugrah (23), pemuda asal Sumatera Barat yang ditangkap terkait kasus judi online oleh Polda Metro Jaya.
Penangkapan Fajri dilakukan di kediamannya di Ampalu, Desa Ganting Mudiak Selatan Surantih, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Kamis 19 September 2024 pukul 10.00 WIB.
Dia ditangkap karena mengelola tiga situs judi online bernama Pandawara126, Asalbet88, dan Targetbet, serta rutin melaporkan penghasilan hariannya kepada bosnya yang berada di Kamboja.
Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Ade Safri Simanjuntak mengungkapkan, laporan tersebut dilakukan Fajri melalui ponsel dan laptop.