Kampus UGM Pasang Badan Hadapi Teror ke Ketua BEM

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto,
Sumber :
  • DOK UGM

img_title Ikan Zebra Jadi Primadona Riset Biomedis Modern di UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Rentetan teror yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menjadi sorotan publik. Peristiwa ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan juga ujian bagi kampus dalam melindungi kebebasan berekspresi civitas akademika.

Gelombang teror bermula setelah BEM UGM mengirimkan surat kepada UNICEF pada Jumat, 6 Februari 2026. Surat tersebut berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil.

img_title PDAM Sleman Gandeng Satelit Argentina, UGM, dan Stellarvision Korea untuk Deteksi Kebocoran Pipa Air

Ironi yang diangkat cukup menyayat hati: seorang anak di Ngada, NTT, memilih mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pena dan buku, sementara negara justru menggelontorkan Rp16,7 triliun untuk iuran pada Board of Peace (BoP). Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan Rp1,2 triliun per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurut Tiyo, surat itu adalah bentuk ikhtiar agar suara mahasiswa didengar. Ia menilai Presiden tidak menyadari realitas di lapangan. “Ketidaktahuan itu kami sebut stupid, karena dalam KBBI bodoh berarti tidak tahu. Kami berharap pihak luar seperti UNICEF bisa memberi tekanan agar Presiden mendengar,” ujarnya di Bundaran UGM, 13 Februari 2026.

img_title UGM Jadi Tuan Rumah Simposium Endokrinologi Komparatif Asia-Oseania

Teror Pesan dan Penguntitan

Tak lama setelah surat dikirim, Tiyo menerima pesan beruntun dari nomor asing. Nomor yang tertera berasal dari Inggris, namun isi pesan ditulis dalam bahasa Indonesia. Ancaman yang masuk antara lain: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, hingga kata-kata kasar seperti “Banci”.

Pesan pertama diterima pada 9 Februari 2026. Sejak itu, enam nomor asing terus menghubunginya. Tidak berhenti di situ, Tiyo juga dikuntit oleh dua orang bertubuh tegap yang memotretnya dari kejauhan. Saat dikejar, keduanya menghilang.

Ancaman terhadap Tiyo bukan kali pertama. Ia pernah difitnah dengan pemasangan fotonya di kawasan Abu Bakar Ali, disertai tulisan “antek asing”. Teror juga muncul setelah BEM UGM menggelar aksi satir dengan menempelkan wajah Presiden Prabowo pada tubuh sapi sebagai bentuk kritik terhadap program MBG.

Bahkan, pada Agustus 2025, Tiyo sempat mengalami percobaan penculikan di kereta usai aksi demonstrasi besar-besaran. Namun, menurutnya, intensitas teror kali ini jauh lebih tinggi. “Bahasa kekuasaan sedang bekerja. Ekspresi rakyat yang cinta bangsa seharusnya dilindungi, bukan dianggap ancaman,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title