Program Gizi Nestlé Lewat Telur dan Susu Turunkan Risiko Stunting 22,5 Persen
- ist
Selain membantu meningkatkan berat badan anak, program tersebut juga mendorong keluarga untuk lebih rutin memantau tumbuh kembang anak.
Di Kabupaten Batang, keterlibatan kader posyandu dan organisasi masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan program di tingkat desa.
Pelaksana Tugas Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Dr. Yuni Hastutiningsih, menilai kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta sangat penting dalam memperluas jangkauan intervensi gizi masyarakat.
Menurutnya, kerja sama lintas sektor dapat mempercepat perubahan perilaku sekaligus memastikan keberlanjutan program pencegahan stunting di tingkat keluarga.
Dari sisi perusahaan, Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menegaskan keberhasilan program tidak hanya diukur dari angka statistik, tetapi juga perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
Ia mengatakan persoalan gizi anak di Indonesia tidak dapat diselesaikan melalui program jangka pendek saja.
Sebaliknya, upaya pencegahan stunting membutuhkan intervensi yang konsisten, berbasis bukti ilmiah, serta didukung pemantauan rutin di lapangan.
“Dampak terpenting bukan hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas,” kata Ankur.
Program pendampingan ini menitikberatkan pada deteksi dini anak yang mengalami stagnasi berat badan atau sulit mengalami kenaikan berat badan.
Nestlé Indonesia menyebut program tersebut merupakan bagian dari komitmen global perusahaan untuk membantu 50 juta anak hidup lebih sehat pada tahun 2030.
Ke depan, perusahaan menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, serta komunitas lokal guna memperluas upaya pencegahan stunting di Indonesia.