Mudik Lebaran dan Ancaman Campak: UGM Ingatkan Pentingnya Kewaspadaan

Tanda penyakit campak
Sumber :
  • DOK UGM

SLEMAN, VIVA Jogja - Menjelang masa mudik Lebaran, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada kelancaran perjalanan, keamanan lalu lintas, serta kesiapan fisik untuk menempuh perjalanan panjang. Namun, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa ada hal lain yang tidak kalah penting: ancaman penyakit menular, khususnya campak. Penyakit ini kembali menjadi sorotan karena tren kasusnya menunjukkan peningkatan signifikan di berbagai daerah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

img_title Hantavirus Strain Andes, kenali Risiko dan Pencegahannya

Data dari Dinas Kesehatan DIY menunjukkan bahwa hingga minggu ke-9 tahun 2026, tercatat 73 kasus campak terkonfirmasi. Angka ini melonjak sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Mayoritas kasus ditemukan pada anak-anak berusia 2–9 tahun, tetapi bayi di bawah usia sembilan bulan yang belum bisa mendapatkan imunisasi juga termasuk kelompok yang rentan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama karena mobilitas masyarakat saat mudik berpotensi mempercepat penyebaran penyakit.

Dalam sebuah talkshow daring bertajuk “Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Haruskah Kita Panik?” yang diselenggarakan Pusat Kedokteran Tropis UGM, dr. Ari Kurniawati dari Dinas Kesehatan DIY menegaskan bahwa lonjakan kasus ini harus menjadi alarm bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan, melainkan bisa menimbulkan komplikasi serius bila tidak ditangani dengan tepat.

img_title Komisi IX DPR RI Dorong Sinergi Nasional Hadapi Ancaman KLB Campak di Yogyakarta

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-KMK UGM, dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), menjelaskan bahwa kunci utama pencegahan campak terletak pada kelengkapan imunisasi Measles and Rubella (MR). Menurutnya, meskipun cakupan vaksinasi dosis pertama di DIY sudah cukup tinggi, yakni di atas 95%, cakupan dosis kedua masih berada di angka 90%. Ketimpangan ini membuka celah bagi berkurangnya kekebalan kelompok. Dalam jangka waktu lima tahun, antibodi dari vaksin yang tidak dilengkapi dosis kedua bisa menurun drastis, sehingga risiko penularan meningkat.

Dr. Ida menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan, tetapi harus meningkatkan kewaspadaan. Ia menyarankan agar pemudik mempertimbangkan risiko sebelum bepergian, terutama jika membawa anggota keluarga yang belum bisa divaksinasi, seperti bayi berusia enam bulan. “Kalau tidak terlalu penting, sebaiknya anak-anak yang masih sangat kecil tidak diajak ke tempat ramai,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Polda DIY Raih Peringkat Pertama Nasional dalam Rekayasa Lalu Lintas Operasi Ketupat 2026