Hantavirus Strain Andes, kenali Risiko dan Pencegahannya

Strain Andes berasal dari kawasan Pegunungan Andes di Amerika Selatan
Sumber :
  • Istimewa

SLEMAN, VIVA Jogja - Kasus hantavirus kembali mencuri perhatian internasional setelah munculnya wabah di kapal pesiar yang berlayar dari Argentina menuju Eropa. Penyakit yang disebabkan oleh hantavirus strain Andes ini menjadi sorotan karena berbeda dengan sebagian besar hantavirus lain: ia memiliki kemampuan menular antar manusia, meskipun dalam tingkat terbatas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa risiko pandemi global masih rendah karena penularan membutuhkan kontak erat dalam waktu lama, sehingga tidak semudah COVID-19.

img_title Ancaman Leptospirosis Membayangi Bantul, Enam Nyawa Melayang

Menanggapi perkembangan tersebut, Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menggelar talkshow daring bertajuk “Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia”. Dalam kegiatan ini, dr. Riris Andono Ahmad MPH, PhD., dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, memaparkan karakteristik virus Andes, perkembangan wabah, hingga risiko penyebarannya secara global.

Riris menjelaskan bahwa strain Andes berasal dari kawasan Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), sindrom paru-paru yang berpotensi fatal. Berbeda dengan hantavirus lain, strain ini memiliki masa inkubasi antara 4 hingga 42 hari dan dapat menular antar manusia. “Penyebab dari hantavirus adalah strain Andes yang berasal dari daerah Amerika Selatan, Pegunungan Andes. Dia mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antar manusia,” ujarnya, Rabu (13/5).

img_title Deteksi Dini dan SADARI Jadi Kunci Kesembuhan Kanker Payudara

Dalam kasus kapal pesiar tersebut, tercatat delapan kasus infeksi, terdiri dari enam terkonfirmasi dan dua tersangka, dengan tiga korban meninggal dari total 147 penumpang dan awak. Negara terdampak meliputi Belanda, Afrika Selatan, Inggris, Jerman, Swiss, dan Argentina. Riris menerangkan bahwa penularan hantavirus terjadi melalui dua jalur: primer, yakni kontak manusia dengan tikus melalui kotoran, urin, atau gigitan; dan sekunder, khusus pada strain Andes, melalui droplet antar manusia. “Kalau strain Andes, kumannya bisa ditularkan melalui droplet, tetapi tidak semudah COVID karena harus memiliki kontak yang erat dan lama,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya langkah pencegahan seperti penggunaan alat pelindung diri, menjaga kebersihan tangan, serta menjaga jarak dari individu yang terinfeksi. WHO sendiri telah melakukan asesmen dan menyimpulkan risiko pandemi global masih rendah karena penyebaran terbatas pada penumpang kapal dan dapat dikendalikan melalui isolasi serta pelacakan kontak. “Hasil asesmen WHO menunjukkan risiko pandemi itu rendah karena kontak dengan penderita harus dekat dan dalam jangka waktu yang lama. Penularannya juga bisa langsung dihentikan di kapal,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Sepertiga Remaja Indonesia Hadapi Gangguan Mental