Terjerat di Dunia Maya, Tersiksa di Dunia Nyata
- VIVA Jogja/istimewa
Kondisi ini makin parah ketika korban merasa telah gagal secara moral dan sosial karena meminjam secara ilegal. Ketika data pribadi atau foto korban disebar di media sosial, katanya, rasa malu berubah menjadi kehancuran batin.
“Sekuat apa pun mereka menutupi dari keluarga, suatu saat rahasia itu terbongkar juga. Dan saat itu terjadi, hancurlah perasaannya,” katanya.
Fenomena bunuh diri pada korban pinjol ilegal, menurut Hastaning, berkaitan erat dengan emosi malu dan kelelahan mental. “Mereka merasa tidak ada lagi jalan keluar. Emosi negatif itu menghambat pengembangan diri dan memperkuat ingatan buruk dalam pikiran,” tuturnya.
Ia menambahkan, lingkungan sekitar sering kali memperburuk keadaan karena justru menyalahkan korban. “Orang lain tidak memahami kondisi psikologis mereka. Teman yang dicurhati pun mungkin tak bisa membantu finansial. Akhirnya korban memilih jalan pintas karena merasa tak ada dukungan,” jelasnya.
Hastaning mengingatkan, keluarga perlu peka terhadap tanda-tanda awal gangguan mental akibat jeratan pinjol ilegal, seperti stres menjelang jatuh tempo, perubahan emosi drastis, perilaku gelisah, dan sikap menarik diri dari lingkungan sosial.
“Mereka bisa mulai berbohong pada keluarga, mencari pinjaman ke mana-mana, bahkan berjudi online sebagai pelarian,” katanya. “Ini bukan sekadar kejahatan finansial, tapi juga kekerasan psikologis yang meninggalkan luka panjang,” imbuhnya.
Dukungan Emosional dan Peran Keluarga
Untuk membantu korban, dukungan emosional menjadi kunci utama. “Keluarga atau teman perlu mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan relaksasi seperti napas dalam atau meditasi, dan membantu semampunya secara finansial,” saran Hastaning. Namun, korban juga perlu jujur pada keluarga. “Berterus terang adalah langkah awal untuk keluar dari tekanan. Dengan begitu, masalah bisa dihadapi bersama,” ujarnya.
Menurutnya, stigma masyarakat terhadap utang justru memperparah depresi korban. “Orang yang sudah mendapat cap buruk akan sulit mencari bantuan profesional. Mereka menarik diri dari lingkungan sosial, harga dirinya hancur, dan bisa mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder),” ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat menurunkan kualitas hidup secara drastis. “Jika dibiarkan, korban bisa benar-benar percaya bahwa bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar,” tegasnya.