Terjerat di Dunia Maya, Tersiksa di Dunia Nyata

Ilustrasi teror pinjol ilegal
Sumber :
  • VIVA Jogja/istimewa

“Awalnya cuma satu, terus dua, lama-lama banyak. Sampai bingung sendiri yang mana yang harus dibayar dulu,” ungkapnya lirih.

img_title OJK Jateng Gaspol Perangi Penipuan Keuangan: Sinergi Satgas PASTI dan Babinsa Perkuat Benteng Literasi Masyarakat

Teman sekantornya bahkan mengalami nasib lebih buruk. Salah satu foto wajahnya diedit dan disebar ke berbagai grup WhatsApp.

“Wajahnya diedit di badan orang lain, kayak foto tak senonoh gitu. Padahal itu bukan badannya dia. Foto hasil editan itu disebar ke teman-temannya,” cerita Danik.

img_title Penipuan Berbasis AI Marak, Satgas PASTI Basmi 776 Aktivitas Keuangan Ilegal

Sejak itu, temannya ganti nomor dan menutup semua akun media sosial. Teror digital itu bukan hanya merusak reputasi, tapi juga menggerogoti mentalnya.

“Saya malu, Mas. Di kantor jadi bahan bisik-bisik. Orang-orang mikir saya punya utang banyak,” kata Danik. Beberapa kali ia mengaku tak sanggup lagi mengangkat telepon, bahkan menonaktifkan ponselnya selama berminggu-minggu.

img_title Bareskrim Polri Nobatkan OJK Sebagai Lembaga Berprestasi dalam Penyidikan Sektor Keuangan

“Sampai tiga bulan pertama itu rasanya kayak dikejar-kejar. Setiap bunyi notifikasi, jantung langsung deg-degan,” ujarnya.

Meski sudah membayar sebagian besar pinjamannya, tekanan tetap datang. “Padahal sudah lunas, tapi mereka tetap nagih, padahal bunganya makin besar.” Pelajaran Pahit Kini, setelah semua berlalu, Danik mengaku kapok. Ia memilih tak lagi menyentuh aplikasi pinjaman apa pun.

“Cukup sekali. Sekarang kalau butuh uang, saya lebih milih nabung atau pinjam ke keluarga,” ujarnya tegas. Ia bersyukur masih punya bos dan teman yang memahami keadaannya. Namun tidak semua korban seberuntung dirinya.

“Teman saya ada yang sampai stres berat. Ada yang ganti nomor, ada juga yang kehilangan pekerjaan,” tambahnya.

Dalam catatan VIVA Jogja, salah satu kisah tragis datang dari korban pinjol illegal di Wonogiri pada 2021 silam. Seorang ibu rumah tangga berinisial WPS (38) ditemukan meninggal dunia setelah diduga tak kuat menahan tekanan dari para penagih pinjol.

Modusnya serupa: pelaku menawarkan pinjaman dengan bunga rendah, meminta akses ke seluruh data pribadi, dan mengaku telah mencairkan dana yang ternyata tidak pernah sampai ke rekening korban. Tak lama, ancaman pun datang — foto korban disebar, kontak pribadinya diteror. “Korban setiap hari diintimidasi. Nomor-nomor di ponselnya juga ditelepon terus, kadang dua kali sehari,” ujar Iptu Sumarwan, Kapolsek Giriwoyo saat itu.

Halaman Selanjutnya
img_title