Problem Literasi Kesehatan di Era Media Sosial

Problem info kesehatan di Medsos
Sumber :
  • istimewa

VIVA Jogja - Media sosial kini menjadi salah satu sumber utama masyarakat dalam mencari informasi kesehatan. Berbagai tips pola makan, klaim khasiat obat herbal, hingga saran pengobatan penyakit kronis dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini menyimpan risiko besar karena tidak semua informasi yang beredar sejalan dengan pedoman klinis standar. Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof apt Zullies Ikawati mengingatkan bahwa derasnya arus informasi digital sering kali bercampur antara fakta, opini, dan hoaks. Sejak pandemi COVID-19, Organisasi Kesehatan Dunia bahkan memperkenalkan istilah infodemic, yakni kondisi banjir informasi yang membuat masyarakat kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Fenomena ini tidak berhenti setelah pandemi mereda, melainkan terus berlanjut dalam isu kesehatan sehari-hari, mulai dari obat “ajaib” hingga terapi alternatif tanpa dasar ilmiah.

img_title Eko Suwanto Ajak Gen Z Yogyakarta Bijak Bermedsos Lewat Konten Kebudayaan

Berbagai penelitian menunjukkan tingginya proporsi misinformasi kesehatan di media sosial. Isu rokok dan obat-obatan tertentu ditemukan mengandung misinformasi hingga 87 persen, vaksin sekitar 43 persen, penyakit kronis dan pandemi sekitar 40 persen, serta tindakan medis sekitar 30 persen. Algoritma media sosial memperburuk keadaan dengan lebih sering menampilkan konten sensasional dan emosional dibandingkan informasi berbasis bukti. Kondisi ini juga tercermin di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat ribuan isu hoaks setiap tahun, dengan tema kesehatan sebagai salah satu kategori yang paling menonjol. Hingga akhir 2023, tercatat 12.547 isu hoaks, dan 2.357 di antaranya terkait kesehatan. Isu kesehatan mudah viral karena menyentuh emosi masyarakat yang sedang panik atau berharap sembuh cepat.

Zullies menekankan bahwa informasi kesehatan di ruang digital kerap beririsan dengan kepentingan komersial. BPOM secara berkala merilis temuan produk obat tradisional dan suplemen yang tidak memenuhi syarat keamanan. Sepanjang semester pertama 2025, BPOM menemukan 79.015 konten obat dan makanan ilegal di e-commerce. Fakta ini menunjukkan bahwa konten digital bukan sekadar informasi, melainkan juga sarana pemasaran produk bermasalah. Karena itu, literasi kesehatan dan literasi digital menjadi kunci utama. Informasi yang akurat biasanya memiliki ciri jelas: sumber dapat diidentifikasi, disampaikan oleh pihak kompeten, menggunakan bahasa proporsional, serta menyeimbangkan manfaat dan risiko. Sebaliknya, klaim yang terlalu pasti, menjanjikan kesembuhan instan, atau menyatakan “aman untuk semua orang” patut dicurigai.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Kupas Cybersecurity dan Ai, Mahasiswa UHN Tegal Disiapka Hadapi Ekonomi Digital