Dwikorita Karnawati: Refleksi Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan

Prof Ir Dwikorita Karnawati
Sumber :
  • Istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Musim hujan tahun ini datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mantan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Kamis (04/12/2025) di UGM, mengingatkan bahwa sejak September pihaknya sudah menyampaikan pergeseran musim. Puncak hujan yang biasanya terjadi pada Desember hingga Januari, kali ini sudah mulai merata sejak November di wilayah barat, berlanjut ke wilayah tengah pada Januari, dan diperkirakan masih berlangsung hingga Februari.

img_title Bandara YIA Batalkan 9 Penerbangan akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Dwikorita menuturkan bahwa pengalaman pahit Siklon Seroja pada 2021 menjadi titik balik dalam kebijakan BMKG. Sebelum peristiwa itu, peringatan dini siklon tropis hanya dikeluarkan beberapa jam sebelum siklon terbentuk. Namun setelah Seroja, kebijakan diubah, peringatan harus dikeluarkan sejak tahap bibit siklon, bahkan lima hari sebelumnya. Menurutnya, langkah ini memberi waktu lebih panjang bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk bersiap menghadapi potensi bencana.

Meski sistem peringatan dini sudah berjalan, Dwikorita menekankan bahwa tantangan besar justru ada pada respons cepat. Ia menyebut bahwa early warning system tidak akan efektif jika tidak diikuti dengan early response.

img_title Pemkot Yogyakarta Gelar Simulasi EWS Banjir, Warga Didorong Pahami Rambu Peringatan Dini

Koordinasi memang sudah dilakukan, seperti pada Oktober lalu ketika BMKG bersama Kementerian PUPR dan pemerintah daerah di Sumatera Utara menyiapkan langkah antisipasi menghadapi banjir bandang yang kerap terjadi di Tapanuli pada November. Namun intensitas siklon yang keluar jalur membuat dampak bencana jauh lebih besar dari perkiraan.

Dwikorita juga menyoroti pentingnya menjaga hutan sebagai benteng alami. Tajuk, ranting, akar, dan ekosistem hutan berperan menahan laju limpasan air. Jika hutan terbuka, dampak siklon akan semakin dahsyat. Ia mengingatkan bahwa fenomena banjir bandang dan longsor yang terjadi di berbagai daerah memperlihatkan rapuhnya bentang alam, terutama di kawasan perbukitan barisan dengan sungai yang menyempit di tebing curam sehingga aliran air dan material longsor menjadi lebih berbahaya.

img_title BPBD Sleman Siaga titik api di lereng Merapi akibat Erupsi

Sejarah mencatat bahwa wilayah selatan Jawa, mulai dari DIY, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, pernah dilanda siklon seperti Bade, Cempaka, dan Dahlia. Siklon Seroja yang terjadi pada April juga menjadi pengingat bahwa ancaman bisa datang kapan saja. Dengan curah hujan yang terus meningkat dan bibit siklon yang semakin sering muncul, Dwikorita menegaskan bahwa Indonesia seakan dikepung ancaman bencana.

Halaman Selanjutnya
img_title