Rantai Pasok Cabai Yogya Tidak Efisien

Kepala Dinas Pertanian DIY, Aris Eko Nugroho
Sumber :
  • Humas UMY

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Fenomena cabai dari Yogyakarta yang dipanen, dibawa ke luar daerah, lalu kembali lagi ke pasar lokal, menjadi sorotan serius Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY. Pola distribusi yang berputar ini dinilai tidak efisien dan berpotensi menaikkan harga di tingkat konsumen.

img_title Muhammadiyah Dorong Evaluasi Ormas Berbasis Hukum dan Data

Isu tersebut mengemuka dalam Pertemuan Kelompok Ahli yang digelar Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Kementerian Luar Negeri RI pada Kamis (11/12/2025).

Forum ini membahas strategi kemitraan komprehensif untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Kepala Dinas Pertanian DIY, Aris Eko Nugroho, mencontohkan cabai sebagai komoditas unggulan yang justru mengalami rantai pasok berputar. “Cabai yang bagus diambil dari Jogja, dibawa ke luar daerah, lalu balik lagi ke sini. Ini benar-benar terjadi,” ujarnya.

img_title Inovasi Anak Panti Muhammadiyah, Madu Surya Asy-Sifa Jadi Bukti Kemandirian di Tengah Kota

Menurut Aris, pola distribusi panjang ini membuat harga cabai di pasar lokal tidak stabil. Situasi serupa juga terjadi pada komoditas lain seperti perikanan dan hortikultura. Ironi ini berlangsung di tengah kondisi unik ketahanan pangan DIY, yang hanya mampu swasembada pada empat komoditas, yakni jagung, cabai besar, cabai rawit, dan telur ayam ras. Produksi cabai bahkan bisa mencapai 500 persen dari kebutuhan lokal. Tingginya nilai ekonomi cabai, yang pada musim tertentu menembus Rp90.000 per kilogram, membuat masyarakat bersemangat menanam meski berisiko gagal panen. Namun, untuk komoditas strategis seperti beras dan padi, DIY masih defisit dan bergantung pada pasokan luar daerah.

Aris menekankan perlunya penguatan fasilitas Sentra Logistik untuk memutus rantai distribusi yang boros. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, swasta, pelaku usaha, hingga komunitas tani harus diperkuat agar surplus di satu wilayah bisa menutup kekurangan di wilayah lain secara efektif. Ia juga menyinggung pentingnya menghidupkan kembali kearifan lokal Lumbung Mataraman, dengan falsafah “nandur opo sing dipangan, mangan opo sing ditandur” (tanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam). Filosofi ini diyakini dapat menjadi fondasi ketahanan pangan berbasis lokal, meski penerapannya masih belum merata di seluruh DIY.

img_title Majelisdiktilibang PP Muhammadiyah Tantang UMUKA Pasang Target Besar: Kalau Tak Ada Target Angka, Kita Tidur

Forum di UMY menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga distribusi dan keberlanjutan. Tanpa perbaikan rantai pasok, surplus cabai dan jagung bisa menjadi sia-sia, sementara kebutuhan beras tetap bergantung pada daerah lain. Situasi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan DIY membutuhkan terobosan nyata, bukan hanya di tingkat produksi, tetapi juga dalam sistem distribusi yang lebih efisien dan berkeadilan.

Halaman Selanjutnya
img_title