Mitra MBG di Yogyakarta Tegaskan Peran Strategis dalam Ekosistem Program
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto dinilai tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi bagi siswa sekolah dan kelompok rentan, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha di daerah. Di Yogyakarta, pelibatan mitra dalam pelaksanaan program tersebut disebut menjadi faktor kunci keberhasilan di lapangan.
Salah satu mitra MBG di Yogyakarta, Retno Sudiyanti, menegaskan bahwa mitra tidak dapat dipandang sekadar sebagai pelaksana teknis. Menurutnya, dalam skema nasional yang kompleks, pemerintah membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat dari pelaku usaha, lembaga pendidikan, hingga unsur masyarakat.
“Program MBG merupakan prioritas nasional untuk memastikan pemenuhan gizi siswa sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui. Skala sebesar ini tidak mungkin dijalankan pemerintah sendiri tanpa kolaborasi yang solid,” ujar Retno, yang juga merupakan mantan anggota DPRD DIY.
Pelaksanaan MBG di tingkat daerah berpusat pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Unit ini bertugas menyiapkan sekaligus menyalurkan makanan bergizi kepada penerima manfaat, terutama siswa sekolah. Dalam praktiknya, SPPG menjadi ujung tombak distribusi dan pengawasan kualitas pangan.
Retno yang menahkodai sejumlah SPPG di wilayah Yogyakarta menjelaskan, mitra memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan rantai pasok berjalan baik. Peran tersebut mencakup pengadaan bahan baku dari petani, peternak, nelayan, koperasi, UMKM, hingga distributor lokal.
“Mitra menjamin ketersediaan bahan pangan lokal secara berkelanjutan sekaligus menggerakkan ekonomi daerah melalui efek berganda. Program ini tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif karena menciptakan ekosistem pangan lokal,” paparnya.
Selain memastikan ketersediaan bahan, mitra juga dituntut membangun manajemen internal yang solid. Koordinasi tim relawan dari berbagai bidang diperlukan untuk menjaga kualitas makanan—baik dari sisi keamanan pangan, nilai gizi, maupun cita rasa. Di sisi eksternal, mitra harus menjalin komunikasi dengan instansi terkait guna memastikan operasional SPPG berjalan sesuai ketentuan.
Tak hanya itu, mitra turut menjalankan fungsi pengawasan dan penjaminan mutu, termasuk mendukung aspek pembiayaan melalui kerja sama dengan perbankan dan lembaga keuangan. Menurut Retno, tanggung jawab tersebut sebanding dengan risiko yang harus ditanggung apabila terjadi persoalan di lapangan.