Penipuan Digital Sasar Hotel di DIY, PHRI Ingatkan Wisatawan Waspada
- Bing Image Creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kasus penipuan daring kembali mencuat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah tujuh hotel kelas menengah ke bawah menjadi korban manipulasi data digital. Modus yang digunakan para pelaku adalah mengganti nomor telepon resmi hotel di Google Maps dengan nomor palsu, serta membuat akun media sosial tiruan yang mengatasnamakan hotel tersebut. Akibatnya, sejumlah wisatawan yang hendak melakukan reservasi terjebak dan mentransfer biaya pemesanan ke rekening penipu.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengungkapkan bahwa praktik penipuan ini mulai marak sejak awal Mei 2026. Momentum libur panjang dan akhir pekan yang berdekatan dimanfaatkan oleh pelaku untuk menjerat calon tamu hotel. “Ada yang nomor telepon di Google Maps diganti dengan nomor penipu. Ada juga akun TikTok dipalsukan, kontennya diambil dari hotel asli. Rata-rata hotel bintang dua ke bawah di Kota Yogyakarta dan Sleman yang jadi sasaran,” jelasnya.
Deddy menambahkan, beberapa wisatawan sudah terlanjur mentransfer uang ke rekening penipu, meski jumlah nominal kerugian belum dapat dipastikan. Ia menekankan pentingnya hotel-hotel yang menjadi korban segera melapor ke kepolisian agar kasus ini dapat ditangani secara hukum. Selain itu, pihak hotel juga telah bersurat ke Google untuk memperbaiki data yang tertera di Maps. Proses pemulihan berlangsung sekitar dua minggu hingga nomor telepon resmi kembali ditampilkan.
Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya industri perhotelan terhadap kejahatan siber. Data PHRI DIY mencatat bahwa hotel bintang dua ke bawah paling sering menjadi target karena sistem keamanan digital mereka relatif lemah dibandingkan hotel berbintang lebih tinggi. Selain itu, wisatawan yang mencari penginapan murah cenderung melakukan reservasi secara cepat tanpa verifikasi mendalam, sehingga lebih mudah terjebak.
Kasus penipuan digital terhadap hotel bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Pada tahun 2024, sejumlah hotel di Bali juga mengalami hal serupa dengan modus penggantian nomor telepon dan pembuatan akun media sosial palsu. Kala itu, kerugian wisatawan mencapai ratusan juta rupiah. Pola yang sama kini muncul di Yogyakarta, menandakan bahwa kejahatan siber di sektor pariwisata semakin sistematis.