Lahan Eks Rob Pekalongan Disulap Jadi Sawah Produktif, 56 Hektare Kini Digarap Petani
- Viva Jogja
BATANG, VIVA Jogja –Lahan bekas terendam rob yang selama ini menjadi persoalan serius bagi pertanian pesisir Kota Pekalongan mulai diubah menjadi peluang untuk memperkuat ketahanan pangan.
Melalui kolaborasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal bersama Pemerintah Kota Pekalongan, lahan eks rob di Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, dikembangkan menjadi lahan pertanian dengan memanfaatkan teknologi adaptif terhadap perubahan iklim.
Upaya tersebut diwujudkan melalui panen Demfarm Smart Farming Padi Biosalin yang digelar Rabu, (12/8/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus dirangkai dengan penyerahan wakaf produktif untuk mendukung kemandirian benih padi unggulan.
Kepala Perwakilan BI Tegal, Bimala, mengatakan program demfarm bukan sekadar kegiatan panen, tetapi menjadi bagian dari upaya mengembalikan fungsi lahan yang terdampak rob dan salinitas agar kembali produktif.
“Penambahan kolaborasi di lahan biosalin ini bertambah banyak, yang tadinya satu kelompok menjadi empat kelompok, dengan total anggotanya saat ini sebanyak 70 petani lebih dengan luas lahan bertambah luas menjadi 56 hektare,” kata Bimala.
Menurutnya, pengembangan tersebut menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya menghadapi persoalan salinitas masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sepanjang ditangani dengan teknologi dan metode yang sesuai.
Pada Demfarm 2026, KPwBI Tegal memperluas areal percontohan menjadi 3,5 hektare.
Pendekatan Climate-Smart Agriculture (CSA) diterapkan secara terintegrasi, mulai dari pemulihan kondisi tanah hingga penggunaan teknologi dalam proses budidaya.
Persoalan kadar garam yang tinggi pada lahan eks rob ditangani melalui proses remediasi menggunakan campuran biochar, dekomposer, dan pupuk kompos kohe.
Selanjutnya, petani menggunakan varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap kondisi salinitas, yakni Biosalin 1, Biosalin 2, dan IPB 11S BePe.
Teknologi pertanian juga diterapkan melalui penggunaan traktor tangan, rice transplanter, sensor tanah real-time, hingga drone sprayer.
Penggunaan teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam proses budidaya.
Hasil pengembangan tersebut menunjukkan produktivitas padi yang mencapai lebih dari rata-rata nasional.
Produktivitas yang dicapai tercatat sekitar 6,6 ton per hektare, sedangkan rata-rata nasional berada di angka 6,3 ton per hektare.
Bimala menilai capaian tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan pertanian padi biosalin di kawasan pesisir.