Progres TPA Sukosari Karanganyar Baru 50 Persen, DLH Targetkan Rampung 15 Desember
- VIVA Jogja
KARANGANYAR, VIVA Jogja - Pembangunan fasilitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukosari terus dikebut. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karanganyar, Sunarno, menjelaskan bahwa progres keseluruhan baru mencapai sekitar 50 persen, namun ditargetkan naik menjadi 60 persen pekan ini dan selesai fisik sebelum 15 Desember.
Pabrik Refuse Derived Fuel (RDF) kini menjadi fokus utama karena seluruh material telah tersedia di gudang penyedia. Di lapangan, rangka atap mulai dipasang dan ditargetkan tertutup pekan ini sebelum masuk ke tahap pengecoran lantai dasar.
Mesin RDF juga hampir tuntas dirakit, mencapai 90 persen, dan akan dikirim begitu hangar siap. Uji coba direncanakan pertengahan Desember, bersamaan dengan penyambungan listrik yang sedang dikerjakan pihak ketiga.
Bangunan hangar alat berat dan bengkel masih 40 persen karena area tersebut merupakan jalur keluar-masuk truk sampah sehingga pemasangan material dilakukan bertahap. Meski demikian, seluruh material sudah siap di basecamp penyedia.
Drainase hampir selesai 100 persen. Penataan zona pasif juga berjalan, termasuk urugan tanah dan pemasangan jaringan gas metan yang telah rampung. Untuk zona aktif, enam titik sumur gas sedang dikerjakan dan ditargetkan selesai satu hingga dua minggu ke depan.
Di sisi lain, pembangunan IPAL sudah melalui tahap pengedukan dan pondasi. Material tulangan dan beton sudah tersedia, meski proses sempat terkendala air lindi akibat hujan dan kini telah diatasi dengan pompa.
Komposter juga dalam proses pembangunan. Progresnya sekitar 30 persen, namun komponen mesin sudah tersedia dan dirakit di basecamp. DLH menargetkan seluruh fasilitas siap sebelum 15 Desember.
Meski begitu, operasional penuh RDF baru dapat dimulai Januari–Februari karena DLH masih menyiapkan tenaga kerja, dengan kebutuhan 15–20 personel per mesin. DLH berharap warga Desa Sukosari dapat terserap.
Sunarno menambahkan kebutuhan anggaran tambahan pada 2026, yakni Rp3–5 miliar untuk betonisasi jalan masuk, sambungan menuju pabrik RDF, pembangunan box culvert, dan drainase. Sementara operasional dua pabrik RDF memerlukan Rp5–10 miliar per tahun untuk listrik, tenaga pekerja, dan perawatan.
Selain pembangunan TPA, DLH juga menuntaskan dua proyek TPS 3R dari bantuan keuangan provinsi, masing-masing Rp210 juta, di Desa Jaten yang progresnya mencapai 90 persen dan Desa Ngringo Jalan Salak dengan progres 82 persen. Setelah selesai, fasilitas akan diserahkan ke desa dan dikelola Bumdes dengan DLH sebagai pembina.