DERU UGM Siapkan Langkah Komprehensif Hadapi Dampak Bencana
- Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Disaster Response Unit (DERU) Universitas Gadjah Mada terus bergerak menyiapkan langkah-langkah penanggulangan bencana yang melanda sejumlah wilayah. Dr dr Rustamaji, menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan verifikasi terhadap kemungkinan risiko yang dialami sivitas akademika UGM. “Kami menghitung minimal ada 1.800 mahasiswa, tenaga kependidikan, serta dosen yang keluarganya mungkin terdampak. Saat ini verifikasi sedang dilakukan di fakultas-fakultas, dibantu mahasiswa dari gelanggang emergency response, BEM, dan UKM,” ujarnya.
Beberapa laporan sudah masuk, meski masih terbatas. DERU bersama unit-unit mahasiswa juga menyiapkan tim untuk turun langsung ke lokasi terdampak. Sejumlah tim pendahuluan dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) serta mitra akademik telah bergerak menuju Aceh. Di Yogyakarta, mahasiswa dan organisasi kampus menyiapkan model donasi yang nantinya akan dikoordinasikan melalui DERU sebagai pintu distribusi utama.
Rustamaji menegaskan bahwa setiap pengiriman bantuan akan dilakukan dengan koordinasi bersama pemuda setempat, perguruan tinggi mitra, serta jaringan Kagama di daerah terdampak. Hal ini penting mengingat peringatan dari Prof. Dwikorita Karnawati bahwa risiko bencana susulan masih besar. “Tim yang berangkat harus dibekali dengan mitigasi yang kuat agar tidak justru menjadi korban,” katanya.
DERU juga mendapat dukungan dari berbagai mitra. PT Pos Indonesia, misalnya, telah berkomitmen memberikan diskon pengiriman logistik ke lokasi bencana. Selain itu, tim kajian di bawah rektorat bersama fakultas-fakultas dan Dewan Guru Besar UGM tengah menyusun policy brief untuk memberikan rekomendasi kebijakan penanggulangan.
Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek turut mendukung dengan membentuk posko berbasis universitas di lokasi bencana. UGM ditunjuk sebagai salah satu universitas pendukung, bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat. Ada delapan bidang yang direncanakan, mulai dari distribusi logistik, layanan kesehatan, penguatan puskesmas, trauma healing bersama Fakultas Psikologi, rehabilitasi infrastruktur dasar seperti air bersih dan sanitasi, hingga pemulihan ekonomi pasca tanggap darurat.
Rustamaji menambahkan, dukungan administrasi publik juga menjadi perhatian, mengingat potensi kolaps data kependudukan dan pertanahan di daerah terdampak. Selain itu, mitigasi dan edukasi kebencanaan akan diperkuat melalui kerja sama kementerian dan universitas. “Kami diberi tenggat waktu hingga Desember untuk menyelesaikan seluruh rencana ini. Mohon doa agar kita bisa melangkah bersama,” ujarnya.