Perguruan Tinggi dan Pemkot Yogyakarta Bersinergi Tata Kawasan Code
- Dok Pemkot Yogya
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, menambahkan bahwa penataan kawasan Terban Madani dilakukan melalui proses panjang. Sebanyak 22 kepala keluarga yang sebelumnya tinggal di area rawan longsor kini menempati hunian baru hasil dialog intensif bersama warga. Proses desain rumah bahkan dilakukan secara door to door, melibatkan mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia agar masyarakat benar-benar ikut serta dalam perencanaan. Desain kawasan sepanjang Sungai Code juga disusun bersama Universitas Gadjah Mada dan UII, dengan mempertimbangkan proporsi lahan yang sebelumnya dimiliki warga.
Salah satu warga, Harjono, menyampaikan rasa syukur atas hunian baru yang jauh lebih layak dibanding kondisi sebelumnya di bantaran sungai. Ia menyebut rumah yang ditempati kini terasa megah dan nyaman. Namun, ia berharap pemerintah juga membantu peningkatan ekonomi warga karena biaya hidup meningkat setelah menempati rumah baru. Harjono menekankan perlunya dukungan ekonomi agar masyarakat dapat bertahan di hunian baru yang lebih layak. Selain itu, ia berharap proses pengurusan kekancingan atau legalitas tanah Kasultanan dapat dipermudah sehingga warga memperoleh kepastian hukum atas hunian mereka.
Kegiatan reses diakhiri dengan foto bersama warga Kampung Terban Madani, menandai semangat kebersamaan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Penataan kawasan Sungai Code melalui program One Village One Sister University menjadi bukti nyata bahwa pembangunan kota tidak bisa dilakukan secara sepihak. Kolaborasi lintas sektor, pendekatan budaya, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi fondasi utama untuk menciptakan Yogyakarta yang lebih bersih, sehat, dan berbudaya. Dengan sinergi ini, Sungai Code diharapkan tidak hanya menjadi ikon kota, tetapi juga simbol keberhasilan pembangunan inklusif yang berorientasi pada kesejahteraan warga.