Perguruan Tinggi dan Pemkot Yogyakarta Bersinergi Tata Kawasan Code
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kawasan Sungai Code kembali menjadi sorotan setelah Pemerintah Kota Yogyakarta bersama perguruan tinggi meluncurkan program penataan berbasis kolaborasi. Program ini tidak hanya menyentuh aspek fisik permukiman, tetapi juga menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dan pendekatan budaya dalam pembangunan kota. Kegiatan reses yang dilakukan Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, di Kampung Terban Madani pada Senin (11/05/2026) menjadi momentum penting untuk menegaskan arah kebijakan tersebut.
Dalam kunjungan itu, GKR Hemas bersama Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meninjau langsung pembangunan hunian layak huni di RW 01 RT 02 Kelurahan Terban, Gondokusuman. Hunian yang diberi nama MAHANANI ini merupakan hasil konsolidasi lahan dengan pendekatan humanis tanpa penggusuran. Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk menangani kawasan kumuh melalui konsep Mundur, Munggah, dan Madhep Kali (M3K), yang mengedepankan pemugaran dan penataan ruang tanpa mengabaikan hak warga.
GKR Hemas dalam sambutannya mengapresiasi penataan kawasan Terban Madani yang dinilai berhasil menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar. Ia menekankan bahwa komunikasi dengan warga menjadi kunci keberhasilan penataan bantaran sungai. Menurutnya, masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut membutuhkan pendekatan manusiawi, bukan sekadar dipindahkan atau digeser begitu saja. Ia juga menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kebersihan kota, mengingat Yogyakarta adalah kota pariwisata sekaligus kota pendidikan. “Penataan ruang itu penting. Tidak ada lagi sampah menumpuk di pojok jalan. Kesadaran masyarakat dan wisatawan untuk membuang sampah dengan baik harus terus dibangun,” ujarnya.
Selain itu, GKR Hemas menekankan bahwa pembangunan kota harus berlandaskan budaya. Baginya, budaya bukan hanya seni pertunjukan, melainkan juga cara hidup masyarakat yang harus dijaga. Pendekatan berbudaya dalam pembangunan menjadi ciri khas Yogyakarta yang tidak boleh hilang. Ia pun mengapresiasi langkah cepat Wali Kota Hasto Wardoyo dalam menangani persoalan sampah dan kebersihan lingkungan.
Hasto Wardoyo menargetkan penataan kawasan sepanjang Sungai Code dapat diselesaikan dalam empat tahun ke depan melalui program M3K. Ia menjelaskan bahwa penataan dilakukan bersama perguruan tinggi melalui program One Village One Sister University. Sejumlah kampung telah mendapat pendampingan dari universitas dan mitra perusahaan dalam penataan kawasan serta pengembangan destinasi wisata berbasis lingkungan. Menurut Hasto, tantangan terbesar bukan hanya pembangunan fisik, melainkan rekonstruksi sosial dan perubahan perilaku masyarakat. “Kalau perilaku tidak berubah, sampah akan tetap ada,” tegasnya.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, menambahkan bahwa penataan kawasan Terban Madani dilakukan melalui proses panjang. Sebanyak 22 kepala keluarga yang sebelumnya tinggal di area rawan longsor kini menempati hunian baru hasil dialog intensif bersama warga. Proses desain rumah bahkan dilakukan secara door to door, melibatkan mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia agar masyarakat benar-benar ikut serta dalam perencanaan. Desain kawasan sepanjang Sungai Code juga disusun bersama Universitas Gadjah Mada dan UII, dengan mempertimbangkan proporsi lahan yang sebelumnya dimiliki warga.
Salah satu warga, Harjono, menyampaikan rasa syukur atas hunian baru yang jauh lebih layak dibanding kondisi sebelumnya di bantaran sungai. Ia menyebut rumah yang ditempati kini terasa megah dan nyaman. Namun, ia berharap pemerintah juga membantu peningkatan ekonomi warga karena biaya hidup meningkat setelah menempati rumah baru. Harjono menekankan perlunya dukungan ekonomi agar masyarakat dapat bertahan di hunian baru yang lebih layak. Selain itu, ia berharap proses pengurusan kekancingan atau legalitas tanah Kasultanan dapat dipermudah sehingga warga memperoleh kepastian hukum atas hunian mereka.
Kegiatan reses diakhiri dengan foto bersama warga Kampung Terban Madani, menandai semangat kebersamaan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Penataan kawasan Sungai Code melalui program One Village One Sister University menjadi bukti nyata bahwa pembangunan kota tidak bisa dilakukan secara sepihak. Kolaborasi lintas sektor, pendekatan budaya, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi fondasi utama untuk menciptakan Yogyakarta yang lebih bersih, sehat, dan berbudaya. Dengan sinergi ini, Sungai Code diharapkan tidak hanya menjadi ikon kota, tetapi juga simbol keberhasilan pembangunan inklusif yang berorientasi pada kesejahteraan warga.