Sarihusada Perkuat Ekosistem Susu Rakyat Lewat Program FRESH di UGM
- Dok PT Sarihusada
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Menghadapi tantangan ketahanan pangan dan kebutuhan gizi masyarakat, PT Sarihusada Generasi Mahardhika (SGM) kembali menegaskan komitmennya mendukung peternak sapi perah rakyat melalui program Farmer Resilience and Enhanced Sustainable Husbandry (FRESH). Komitmen ini ditunjukkan lewat lokakarya bertajuk “Sinergi Pemerintah dan Stakeholder dalam Mendukung Produktivitas Susu” yang digelar di Auditorium Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu 13 Mei 2026. Acara tersebut menghadirkan pemerintah, akademisi, koperasi, pelaku usaha, serta peternak dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, menjadikannya ruang kolaborasi multipihak untuk memperkuat produktivitas susu sekaligus mendukung pemenuhan gizi nasional.
Program FRESH yang telah berjalan sejak 2023 merupakan kerja sama SGM dengan Danone Ecosystem, Yayasan Rumah Energi (YRE), serta mitra lain. Fokusnya adalah meningkatkan kapasitas peternak sapi perah rakyat melalui pelatihan Good Dairy Farming Practices (GDFP), penguatan infrastruktur, inovasi peternakan, hingga akses pembiayaan dan teknologi. Sejumlah inisiatif nyata telah dijalankan, mulai dari vaksinasi dan pengobatan pasca wabah PMK, kredit sapi perah, inovasi pakan, digitalisasi pencatatan, pembangunan instalasi biogas, hingga pengembangan fasilitas susu pasteurisasi. Semua ini dirancang untuk memperkuat rantai nilai susu dari hulu hingga hilir.
Apresiasi datang dari pemerintah melalui Drh. Boethdy Angkasa, M.Si., PLH Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Ia menegaskan bahwa peningkatan produktivitas susu nasional tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara industri, akademisi, koperasi, dan peternak. Menurutnya, pendekatan komprehensif yang dijalankan Sarihusada melalui FRESH telah membawa dampak signifikan dalam tiga tahun terakhir. Hal senada disampaikan Karyanto Wibowo, Senior Director Public Affairs & Sustainability Danone Indonesia, yang menekankan pentingnya tata kelola koperasi, akses pembiayaan, dan adopsi inovasi di tingkat peternak agar program ini semakin berdampak bagi kemajuan peternakan rakyat.
Selain lokakarya, kegiatan ini juga menandai penyerahan kajian “Ideal Business Size of Smallholder Farmers” kepada pemerintah. Kajian tersebut menunjukkan bahwa untuk mencapai penghasilan setara UMR, peternak di DIY dan Jawa Tengah idealnya memiliki dua ekor sapi laktasi, sementara di Jawa Timur tiga ekor. Kajian ini menekankan pentingnya penerapan GDFP, pengelolaan limbah menjadi biogas, penyediaan air minum memadai, serta penggunaan peralatan produksi yang optimal. Data berbasis praktik lapangan ini diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan sektor persusuan nasional.