Gamelan PMS Sempat Terdiam, Kini Kembali Bergema di Solo, Bawa Jejak Akulturasi Jawa-Tionghoa

Gamelan yang Lama Tersimpan Kembali Bergema di Solo, Membawa Cerita Jawa-Tionghoa
Sumber :
  • Ist/VJVA Jogja

SOLO, VIVA Jogja - Suara gamelan yang selama ini tersimpan di Gedung Pertemuan Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) kembali terdengar, Sabtu (15/8/2026). 

img_title HIMKI Bidik Ekspor Furniture US$6 Miliar, Kemendag Siapkan TEI 2026 untuk Buru Buyer Global

Bunyinya bukan sekadar tabuhan untuk sebuah pertunjukan, tetapi membawa kembali cerita tentang seni, sejarah, dan perjumpaan budaya Jawa-Tionghoa di Solo.

Seperangkat gamelan milik PMS yang sempat tidak aktif kembali dimainkan dalam Eksibisi Karawitan bertajuk “Nguri-uri Budaya Jawi”. Namun, panggung tersebut tidak hanya menjadi tempat memainkan musik tradisional Jawa.

img_title Tak Perlu Makanan, Begini Cara Keeper Solo Safari Membujuk Orang Utan Didi Pulang

Gamelan PMS dipertemukan dengan Yang Khim dan Erhu, instrumen musik dari tradisi Tionghoa. Pertemuan itu menjadi gambaran bagaimana kebudayaan yang berbeda dapat berdialog dalam satu panggung tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.

Momentum tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian peringatan HUT ke-94 PMS. Tetapi bagi organisasi yang telah berusia hampir satu abad itu, kembalinya gamelan ke panggung memiliki arti lebih jauh: menghidupkan kembali aktivitas seni yang pernah menjadi bagian dari perjalanan PMS.

img_title Terungkap Dugaan Cara Orang Utan Didi Bisa Lolos dari Pengamanan Solo Safari

Penanggung Jawab Eksibisi Gamelan PMS dan Pemerintah Kota Surakarta, Iwan Jasmoro, mengatakan gamelan PMS memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di Kota Solo.

Namun, aktivitas gamelan tersebut sempat terhenti.

Karena itu, eksibisi kali ini menjadi momentum untuk kembali mengenalkan gamelan PMS kepada masyarakat sekaligus membuka jalan agar aktivitas seni tersebut tidak berhenti sebagai bagian dari masa lalu.

“Mudah-mudahan dengan mulai diaktifkannya kembali gamelan PMS ini bisa menarik minat masyarakat untuk kembali mengenal budayanya, mengingat budayanya dan mengembangkan budaya Jawi,” kata Iwan dalan rilis yang diterima, Minggu (16/8/2026). 

Upaya tersebut tidak dilakukan dengan sekadar menghadirkan pemain lama. PMS juga membuka panggung bagi kelompok karawitan dari berbagai wilayah dan generasi.

Kelompok karawitan dari lima kecamatan di Kota Solo, yakni Pasar Kliwon, Jebres, Banjarsari, Laweyan dan Serengan, tampil dalam eksibisi tersebut.

Panggung yang sama juga diisi pelajar SMA Regina Pacis Surakarta serta kelompok karawitan anak-anak SD yang mendapatkan pembinaan dari Dinas Pariwisata Kota Surakarta.

Secara keseluruhan, delapan kelompok tampil dalam eksibisi tersebut. Sejumlah penyanyi juga membawakan lagu berbahasa Jawa maupun Mandarin.

Halaman Selanjutnya
img_title