Panen Harapan di Lahan Asin Mangunharjo

Panen Biosalin di Lahan Salinitas Mangunharjo
Sumber :
  • VIVA Jogja/dok BRIN

Semarang, VIVA Jogja – Lima tahun lamanya lahan sawah di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, terbengkalai akibat terjangan air laut. Tanah yang dulunya hijau kini mengeras penuh garam. Namun harapan itu tumbuh lagi di tengah lumpur: padi jenis biosalin berhasil menghidupkan kembali sawah-sawah yang sempat dianggap mati.

img_title UGM dan BRIN Dorong Pemanfaatan Tempe dan Pisang Lokal untuk Cegah Stunting Berbasis Komunitas

“Alhamdulillah, respon petani sangat baik. Sekarang sudah banyak yang menanam padi biosalin ini,” tutur Muhammad Bahrun (50), Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki Mangunharjo, saat ditemui VIVA Jogja di lahan garapan miliknya, Sabtu (25/10/2025).

Bahrun menuturkan, sebelumnya lahan di kawasan tersebut telah mangkrak selama lebih dari lima tahun akibat intrusi air laut. “Dulu tanahnya subur, semuanya sawah. Tapi setelah kena rob, kadar garamnya tinggi, jadi nggak bisa ditanami padi biasa,” ujarnya.

img_title Perguruan Tinggi Dorong Inovasi Energi dari Sampah Organik

Kini, berkat varietas baru hasil pengembangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pertamina, tanah-tanah asin itu kembali produktif.

Bahrun dan kelompoknya menanam padi varietas biosalin di lahan seluas sekitar 20 hektare, dan hasil panen perdananya yang berlangsung Juli lalu memberi bukti nyata bahwa inovasi ini bukan sekadar ujicoba. “Padinya bisa tumbuh bagus. Hasilnya juga lumayan, rasanya hampir sama seperti padi biasa,” kata Bahrun.

img_title Megawati dan Laut sebagai Jalan Kemandirian Bangsa

Muhammad Bahrun Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki

Photo :
  • VIVA Jogja/Stefy Thenu

Sebelum program biosalin masuk, para petani Mangunharjo sebagian beralih profesi menjadi nelayan atau petambak, karena lahan mereka tak bisa lagi ditanami. Namun tambak pun kerap terdampak rob. “Ya susah, air lautnya makin sering masuk. Tapi sekarang dengan padi ini, kami bisa kembali panen,” tutur Bahrun yang sudah dua dekade menjadi petani.

Varietas biosalin — singkatan dari bio-salt-tolerant — dirancang tahan terhadap kadar garam tinggi. “Jenis Biosalin 1 membutuhkan waktu tanam sekitar 112 hari, sementara jenis Biosalin 2 lebih cepat sekitar satu minggu,” ungkap ayah dua putra ini.

Bahrun menyebut, perbedaan ini memberi fleksibilitas bagi petani untuk menyesuaikan dengan kondisi tanah. Musim tanam berikutnya, kata dia, akan dimulai pertengahan November mendatang. “Traktor sudah mulai masuk sawah. Kami rencana tanam lagi. Saya sendiri tanam di lahan sekitar satu hektare lebih sedikit,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
img_title