Gunung Merapi 15 Maret 2026: Dua Kali Awan Panas Guguran, Warga Diminta Waspada
- BPPTKG Yogyakarta
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Aktivitas Gunung Merapi pada Minggu, 15 Maret 2026, kembali menunjukkan peningkatan dengan terjadinya dua kali awan panas guguran (APG) yang meluncur ke arah barat daya. Berdasarkan laporan pengamatan, luncuran awan panas tersebut mencapai jarak maksimum 1.500 meter ke arah Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Kondisi ini menegaskan bahwa suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu kejadian serupa di dalam wilayah potensi bahaya. Status Merapi saat ini tetap berada pada Level III atau Siaga.
Berdasar data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sejak dini hari hingga sore, cuaca di sekitar Merapi terpantau berawan hingga mendung dengan suhu udara berkisar antara 17 hingga 24 derajat Celsius. Kelembaban udara relatif tinggi, mencapai 68–99 persen, sementara curah hujan harian tercatat sekitar 70 milimeter. Hujan juga sempat turun di puncak Merapi pada pukul 14.24 WIB dengan intensitas cukup tinggi, yakni 22,68 mm/jam selama 32 menit. Kondisi ini meningkatkan potensi bahaya lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
Secara visual, puncak Merapi terlihat jelas meski sesekali tertutup kabut. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal teramati setinggi 20–25 meter di atas puncak. Guguran lava terpantau beberapa kali mengarah ke barat daya, khususnya ke alur Kali Sat/Putih dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Selain itu, awan panas guguran teramati dua kali dengan amplitudo 9–17 mm dan durasi hingga 202 detik.
Data kegempaan menunjukkan intensitas aktivitas yang cukup tinggi. Guguran lava terjadi lebih dari 80 kali sepanjang hari dengan amplitudo 1–43 mm dan durasi hingga 193 detik. Gempa hybrid atau fase banyak juga terpantau sebanyak 68 kali, menandakan suplai magma masih berlangsung. Selain itu, terdapat lima kali gempa tektonik jauh yang menunjukkan adanya pengaruh aktivitas tektonik regional.
Analisis menunjukkan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran pada sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km. Selain itu, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius hingga 3 km dari puncak.